Senin, 10 Okt 2016 19:13 WIB

Bahaya Depresi Pasca Melahirkan

Kenali, Risiko Ibu Depresi Bisa Terlihat Sejak Kehamilan

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Depresi pasca melahirkan merupakan gangguan kejiwaan yang tidak muncul secara mendadak. Pakar mengatakan ada gejala-gejala yang bisa dikenali bahkan sejak kehamilan.

dr Andri SpKJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan secara umum, wanita memang lebih rentan mengalami gangguan jiwa. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh hormon yang lebih besar pada wanita daripada pria.

"Depresi nggak muncul begitu saja, ketika habis melahirkan tahu-tahu depresi, sedih dan takut, kan tidak begitu. Prosesnya bisa muncul bahkan sejak kehamilan karena pengaruh hormon," tutur dr Andri, dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

Baca juga: Gangguan Psikotik Tergolong Langka Tetapi Lebih Berbahaya dari Depresi

Depresi saat kehamilan dipicu oleh naik-turunnya hormon estrogen pada ibu hamil. Ketika hormon estrogen rendah, perasaan sedih yang biasa saja bisa berubah menjadi teramat dalam dan memicu ibu hamil menjadi sensitif dan mudah menangis. Kondisi ini normal pada ibu hamil dan biasanya hilang setelah melahirkan.

Beberapa tanda sederhana depresi pada ibu hamil di antaranya adalah tidak tertarik dengan baby shower, sering meremehkan perkembangan bayinya, tidak memiliki kedekatan dengan bayinya atau bahkan menyesali kehamilannya. Gejala lain adalah perubahan perilaku yang meliputi kurang berenergi, ada perubahan waktu tidur dan nafsu makan, serta merasa bersalah, tidak berdaya dan putus asa.

Namun pada beberapa kasus, gejala-gejala ini ditambah dengan lingkungan yang kurang mendukung, adanya masalah saat kehamilan, sering perdarahan, atau sering sakit saat hamil, dapat menyebabkan depresi menjadi berat. Nah, depresi berat inilah yang masih ada bahkan setelah melahirkan atau yang biasa disebut depresi pasca melahirkan.

"Misalnya ketika sudah melahirkan, anaknya mengalami kecacatan, ibu tidak bisa terima dengan keadaannya atau suami jauh, keluarga tidak membantu dan masalah lainnya dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan," paparnya lagi.

dr Eka Viora, SpKJ, Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengatakan skrining depresi pada ibu hamil sangat penting dilakukan. Hanya saja masih adanya stigma dari masyarakat dan tenaga kesehatan membuat skrining jarang dilakukan.

"Di Puskesmas itu ada instrumennya, dokter dan bidan bisa memberikan skrining depresi pada ibu hamil ketika melakukan pemeriksaan kehamilan. Kita harapkan dokter dan bidan juga lebih mempromosikan karena masyarakatnya sebagian besar memang belum tahu," paparnya.

Baca juga: Ketika Ibu Tega Membunuh Anak, Apa yang Sebenarnya Terjadi? (mrs/up)