Selasa, 11 Okt 2016 14:06 WIB

Bahaya Depresi Pasca Melahirkan

3 Fakta yang Harus Diketahui Ibu Baru Soal Baby Blues Syndrome

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Ilustrasi ibu depresi (thinkstock) Foto: Ilustrasi ibu depresi (thinkstock)
Jakarta - Baby blues syndrome dikatakan pakar merupakan kondisi yang bisa terjadi pada setiap ibu yang baru melahirkan. Gejala utamanya adalah perasaan sedih, hilang nafsu makan dan sulit tidur.

Meski begitu, baby blues syndrome berbeda dengan depresi pasca melahirkan. Pasalnya, baby blues terjadi setelah bayi lahir dan akan hilang sendiri setelah kurang lebih 2 minggu.

"Kalau baby blues ini terjadi terus, bayi bisa menjadi sasaran intonasi bicara ibu yang tinggi, bayi diurus sama ibunya dengan rasa letih, sehingga ibu terkesan menyesalkan keberadaan si anak. Anak juga lama-lama bisa merasakan bahwa kehadirannya tidak diinginkan," tutur praktisi neurosains terapan, Anne Gracia, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, ibu juga harus paham soal apa itu baby blues syndrome. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 3 fakta yang harus diketahui soal baby blues:

Baca juga: Jangan Salah, Baby Blues Syndrome Tidak Sama dengan Depresi

1. Apakah saya mengidap baby blues?

Sekitar 10-15 persen ibu mengalami baby blues, baik ketika melahirkan anak pertama, kedua ataupun seterusnya. Namun tidak semua ibu menyadari dirinya mengalami baby blues.

Dr dr Carla R. Marchira, SpKJ(K) dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta mengatakan ada dua pertanyaan yang bisa ditanyakan ke ibu, baik oleh suami ataupun dirinya sendiri berkaitan dengan baby blues.

1. Apakah dalam sebulan ini Anda merasa depresi, sedih, tidak ada harapan, atau terpuruk?
2. Apakah dalam sebulan ini Anda merasa tidak tertarik atau tidak senang melakukan apapun?

"Misalnya yang awalnya seneng olahraga tiba-tiba jadi males, seneng baca lama-lama kok males, nanti akan kelihatan. Ini bisa dijadikan panduan bagi pasangan, atau ditanyakan kepada diri sendiri," katanya, beberapa waktu lalu.

2. Dampaknya terhadap suami

Baby blues syndrome tidak hanya berdampak pada ibu dan bayinya. Pakar mengatakan yang paling merasakan dampak baby blues adalah suami.

Bila suami mendapati istri sering mengeluh, misal sudah tidak tertawa atau tidak menemukan sesuatu yang lucu dari suatu hal, maka suami perlu waspada. Salah satu yang menjadi kekhawatiran dr Carla adalah penyalahgunaan obat-obatan karena stres mengurus istri serta adanya hubungan ekstramarital.

"Karena istri kurang memperhatikan penampilan (selama baby blues), timbul keinginan untuk mencari wanita idaman lain. Atau suami jadi terisolir dari keluarga, padahal keluarga tidak mengetahui kalau ada problem, 'gimana sih bayinya jerit-jerit kok diam saja, (sehingga muncul penilaian) kamu salah pilih istri!'. Pekerjaan suami pun jadi terbengkalai karena ia bingung harus bagaimana mengambil sikap," paparnya.

3. Baby blues bisa dicegah

Meski memiliki beragam efek dan risiko, pakar mengatakan baby blues dapat dicegah. Misalnya dengan mengikuti grup psikoterapi seperti pada kelompok senam hamil. Cara ini dikatakan dr Carla dapat mengurangi risiko depresi pada ibu sampai 3 bulan pasca lahiran.

Cara kedua adalah terapi musik. Walaupun dr Carla membebaskan orang tua memilih genre musik yang disukai namun ia menyarankan agar ibu memilih musik yang lembut, karena berdasarkan penelitian, musik yang keras seperti rock dikhawatirkan dapat mempengaruhi jantung bayi.

"Yang terakhir jelas mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan baik, seperti olahraga tadi, dan pemenuhan nutrisi," tutupnya.

Baca juga: 6 Hal Ini Dialami Oleh Ibu yang Depresi Pasca Melahirkan (mrs/up)