Selasa, 11 Okt 2016 15:35 WIB

Bahaya Depresi Pasca Melahirkan

Ibu Stres dan Banyak Pikiran, Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Ilustrasi ibu depresi (thinkstock) Foto: Ilustrasi ibu depresi (thinkstock)
Jakarta - Depresi pasca melahirkan atau post-partum depression bisa menyerang ketika ibu terlalu lelah setelah melahirkan. Adanya perubahan hormon dikatakan pakar juga memengaruhi kemunculan gangguan jiwa ini.

Tati, salah seorang pembaca detikHealth, mengatakan pernah berpikir untuk memasukkan anaknya ke dalam mesin cuci yang sedang berputar. Tati mengaku jengah dengan anak pertamanya yang sering rewel dan menangis, sementara Tati masih harus mengurus pekerjaan rumah.

Pengakuan yang sama juga dikatakan oleh Kinan. Ibu muda yang bekerja di bilangan Jakarta Selatan ini mengaku sempat ingin membekap anaknya yang belum genap satu tahun ketika menangis tengah malam, padahal ia butuh istirahat setelah seharian bekerja dan harus mempersiapkan diri untuk rapat esok hari.

Baca juga: Jangan Salah, Baby Blues Syndrome Tidak Sama dengan Depresi

Tentunya, tidak hanya Tati dan Kinan saja yang memiliki perasaan kesal dan gundah ketika mengurus anak. Ibu-ibu di mana pun pasti memiliki keluhan yang sama, entah itu karena anak rewel, menangis terus atau sulit diberi makan. Namun ketika orang tua memikirkan untuk membekap atau memasukkan anak ke mesin cuci karena rewel, apakah normal?

"Kalau ibu yang normal, yang sehat jiwanya, nggak akan pernah berpikir seperti itu. Sejahat-jahatnya binatang saja nggak pernah ngebunuh anaknya sendiri. Nah kita ini manusia, tentunya lebih baik daripada binatang," ungkap dr Andri, SpKJ, FAPM, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, ketika berbincang dengan detikHealth, baru-baru ini.

Pendapat senada juga dikatakan oleh Dr Ayu Nindyati, Psikolog, dari Himpunan Psikologi Indonesia. Menurutnya, setiap ibu, terutama ibu yang baru memiliki anak pertama, pastinya akan merasa kesusahan saat mengurus anak. Namun adanya kesusahan tersebut tak langsung membuat ibu mengalami gangguan jiwa.

Ia menyebut masalah-masalah seperti anak rewel, sulit makan atau sering terbangun di tengah malam merupakan hal yang memang bisa membuat ibu stres. Stres tersebut seharusnya bisa dikelola dengan baik, misalnya dengan berbincang dengan suami, menelepon anggota keluarga atau minimal ngobrol dengan tetangga.

"Tapi ketika stres mengurus anak itu ditambah dengan adanya tekanan lain dari luar, ada masalah yang tidak terselesaikan seperti hubungan dengan suami renggang, single parent, suami di luar kota, tekanan ekonomi, atau masalah psikososial lainnya, memang bisa memicu terjadinya gangguan jiwa," papar Ayu ketika dihubungi terpisah.

Jika ibu sudah sampai memikirkan untuk membunuh atau menghabisi nyawa anak, Ayu menegaskan hal ini tidaklah normal. Pikiran-pikiran tersebut merupakan gejala awal munculnya gangguan psikotik ringan.

Menurutnya, solusi awal adalah membicarakan masalah tersebut dengan suami atau anggota keluarga. Kalaupun merasa repot dengan pekerjaan rumah tangga, ada baiknya untuk menyewa asisten rumah tangga sehingga beban ibu menjadi berkurang.

"Tapi kalau sudah melakukan itu, pikiran-pikirannya masih ada, segera hubungi profesional, baik dokter jiwa ataupun psikolog untuk mencari bantuan," tegasnya.

Baca juga: 3 Fakta yang Harus Diketahui Ibu Baru Soal Baby Blues Syndrome (mrs/vit)