Terapi musik memang telah banyak digunakan dalam proses pemulihan setelah kecelakaan atau gangguan mental seperti depresi. Tapi bagi remaja ini, lagu-lagu hit milik Taylor Swift tak hanya membantunya dalam terapi, namun bisa jadi satu-satunya 'obat yang diresepkan' oleh sang dokter.
Johanna Benthal lahir dengan gangguan otak yang disebabkan oleh mutasi pada gen CCM3. Akibatnya, pembuluh darah di otaknya tidak berkembang dengan normal dan mengalami kebocoran, sehingga seumur hidupnya Johanna telah menjalani operasi lebih dari 91 kali.
Mutasi genetik pada CCM3 sendiri baru ditemukan pada 100 orang saja di penjuru dunia. Ini artinya kondisi yang dialami Johanna tergolong sangat langka. Akan tetapi siapa sangka kecintaannya pada musisi kenamaan asal Amerika, Taylor Swift ternyata memberikan dampak positif bagi penyakitnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lima kali seminggu, gadis asal Jamesport, Long Island ini bertemu dengan terapisnya, Joseph Lee di NYU Langone Medical Center untuk berlatih bernyanyi. Joseph juga mengajari Johanna bagaimana tampil di depan umum hingga memainkan instrumen musik.
"Di lain waktu, kami membantu menenangkan dan memberikan pengalihan agar mereka tidak merasa masuk rumah sakit itu begitu mengerikan," kata Joseph.
Joseph menyadari bahwasanya anak-anak yang mengidap penyakit tertentu tak hanya harus menghadapi dampak fisik dari penyakitnya, tapi juga isolasi dari lingkungan karena mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit. Namun belajar musik membantu mereka agar bisa bersosialisasi dan berinteraksi, setidaknya dengan sesama pasien, sehingga mereka tidak merasa terasingkan lagi.
Itulah mengapa Joseph selalu memberikan terapi kepada beberapa pasien sekaligus, bahkan beberapa di antaranya berhasil menjadi musisi. "Ini tak hanya memberi saya tujuan hidup tapi juga kesempatan untuk menunjukkan apa yang bisa saya lakukan kepada dunia," tutur Johanna seperti dikutip dari NY Daily News, Selasa (3/3/2015).
Sang ibu, Eileen sudah tahu bahwa terapi musik akan memberikan perubahan pada putrinya. Ia mengisahkan sejak masih bayi, Eileen kerap bersenandung di dekat kuping Johanna kecil sebelum masuk ke ruang operasi. Bahkan pernah suatu ketika Johanna mengalami pendarahan dan ia jadi tak bisa bicara sama sekali. Anehnya, ketika sang ayah memainkan gitar, gadis yang kini berusia 18 tahun itu justru bisa bernyanyi bersamanya.
Untuk memudahkan terapinya, Joseph mengarahkan agar Johanna mencoba membawakan lagu-lagu ciptaan idolanya, yakni Taylor Swift. Sejak saat itulah ia diajari untuk menyanyikan lagu-lagu seperti 'Love Story', 'We Are Never Ever Getting Back Together', dan 'Shake It Off'. Bahkan sepulangnya dari terapi, Johanna tetap menyenandungkan lagu-lagu itu, dimanapun ia berada.
Tragisnya, kondisi yang dialami Johanna tak ada obatnya. Sejauh ini dokter hanya bisa mengelola komplikasi saraf yang muncul akibat kondisi ini. Bahkan riset tentang mutasi genetik CCM3 sendiri hampir sulit ditemukan.
Dan tiap kali pendarahan terjadi, fungsi otak Johanna akan menurun, begitu juga dengan kemampuan kognitifnya, sehingga rentang hidup remaja ini makin memendek. Namun di tengah perjuangannya itu, Johanna tetap tertantang untuk belajar menyanyikan lagu Taylor lainnya. "Saya tahu ini tak mudah tapi saya pasti bisa melakukannya," tekad Johanna.
Baca juga: Hampir Amnesia karena Kecelakaan, Pria Ini Sembuh Berkat Lagu Coldplay
(lil/vta)











































