Tak Bisa Jalan Karena Sindrom Langka, Hidup Sam Berubah Berkat Selancar

Tak Bisa Jalan Karena Sindrom Langka, Hidup Sam Berubah Berkat Selancar

Rahma Lilahi Sativa - detikHealth
Selasa, 05 Mei 2015 16:06 WIB
Tak Bisa Jalan Karena Sindrom Langka, Hidup Sam Berubah Berkat Selancar
Sam dan Josh (Foto: Rodney Bursiel)
Texas - Hati orang tua mana yang tak pilu melihat anaknya tak dapat tumbuh normal, apalagi karena penyakit genetik langka yang dibawanya sejak lahir. Namun di tengah keputusasaan, ibu ini menemukan secercah harapan.

Monica McDivitt mengaku memiliki seorang putri bernama Samantha yang terlahir dengan 'chromosome 18q deletion syndrome', sebuah kondisi yang diakibatkan hilangnya salah satu kromosom dalam DNA-nya. Anak-anak yang terlahir dengan kondisi ini mengalami sejumlah keterbelakangan fisik dan mental sekaligus.

Samantha sendiri tuli, tak dapat berbicara, autis serta keterbelakangan intelektual parah karena sindrom langka tersebut. Monica dan suaminya, John juga sudah diwanti-wanti dokter bilamana Samantha mungkin takkan mampu berjalan, bahkan mungkin untuk seumur hidupnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Ada Riwayat Lumpuh Akibat Penyakit Genetik, Pasti Menurun ke Anak?

Akan tetapi saat usia Samantha memasuki 10 tahun, ia diberikan kesempatan untuk belajar berselancar atas undangan sebuah organisasi amal. Ia tak pernah menyangka kesempatan itu akan mengubah hidup Sam, panggilan akrab Samantha.

Undangan itu diberikan oleh Waves of Impact, sebuah organisasi yang membuka kelas pelatihan selancar untuk veteran perang yang mengalami kecacatan dan anak berkebutuhan khusus.

Karena undangan itu, Sam pun diantar oleh kedua orang tuanya ke Galveston, Texas untuk menemui Josh Harper. Pendiri Wave of Impact itulah yang akan memandu Sam belajar berselancar keesokan harinya. "Saat pertama kali bertemu dengan Josh, saya tahu Sam sedikit gugup, tapi tak kami sangka Sam berusaha memegang tangan Josh," kenang Monica seperti dikutip dari The Mighty, Selasa (5/5/2015).

Itu artinya Sam merasa nyaman, sebab Sam lebih sering menarik diri ketika didekati atau diajak berinteraksi oleh orang lain. Monica semakin dibuat terheran-heran melihat Sam yang susah tidur malam harinya. Ia seperti begitu mengantisipasikan pelajaran berselancarnya yang pertama keesokan hari.

"Walaupun Sam belum pernah sekalipun ke pantai, apalagi menyentuh air laut, tapi ia suka berenang, jadi kami percaya ia bisa beradaptasi," lanjutnya.
 
Keesokan pagi, Monica dan suaminya berusaha tetap tenang. Namun setelah sarapan dan berganti pakaian, mendadak Sam ketakutan. "Tiba-tiba ia merangkak dan berputar-putar di kamar hotel. Ia bahkan enggan diberdirikan atau duduk di stroller-nya. Duh saya langsung tahu ia ketakutan," kata Monica.

Monica butuh waktu beberapa lama untuk menenangkan Sam, dan mendudukkannya di stroller. Tapi masih saja Sam menendang-nendang dan tangannya melingkar di tubuh Monica, seperti tak mau lepas dari sang ibu. Monica hanya bisa berdoa semoga mood Sam segera berubah ketika mereka mencapai pantai.

Tak diduga, Sam berlari menuju pantai, duduk di pantai, bahkan mengunyah rumput laut yang ia temukan. Josh kemudian mempersiapkan papan selancar dan menghampiri Sam. Sembari diawasi orang tuanya dari pinggir pantai, Sam tampak mulai menaiki papan selancar dalam keadaan tengkurap, dan Josh mendorongnya ke laut.

Monica ingat betul semua orang yang melihat putrinya langsung bersorak kegirangan. "Dokter mengatakan Sam mungkin takkan pernah bisa berjalan, tapi saat itu saya melihat ia berselancar!" ungkap Monica kegirangan.

Sejak saat itu, Monica yang kini menginjak usia 14 tahun rutin mengikuti kamp selancar tersebut dan Josh serta tim dari Waves of Impact menjadi bagian dari keluarga mereka.

Baca juga: Tangan dan Kaki Lunglai Karena Sakit Langka, Alyssa Tetap Semangat

(Rahma Lilahi Sativa/Ajeng Anastasia Kinanti)

Berita Terkait