Desa Budiasih di Ciamis, Jawa Barat jadi sorotan beberapa hari belakangan ini. Di desa tersebut tinggal belasan hingga puluhan pengidap gangguan jiwa yang dipasung dan tak mendapat penanganan medis.
Wakil Bupati Ciamis, Jeje Wiradinata, mengaku kecolongan soal hal ini. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) kecolongan karena tidak tahu ada desa dengan banyak pengidap gangguan jiwa dan baru tahu setelah diberitakan oleh media.
"Kita memang kecolongan. Sebelumnya memang nggak tahu, itu kan ketahuannya setelah ada pemberitaan dari media," tutur Jeje ketika ditemui detikHealth baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Belasan Tahun Terpasung: Sungkem si Mamad Saat Dijemput Petugas RS Jiwa
Menurutnya, ada kebiasaan masyarakat yang ingin menyembunyikan fakta bahwa anggota keluarga mengidap gangguan jiwa. Karena disembunyikan, seringkali pasien-pasien ini tidak terdata oleh Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan primer.
"Mungkin karena kultur ya, ada rasa malu untuk melaporkan anggota keluarga yang mengidap gangguan jiwa. Karena malu dan kurang informasi, akhirnya yang sakit dibawa ke dukun atau lebih parah lagi dipasung dan didiamkan saja tidak diobati," ungkap Iing, seperti ditulis Senin (2/2/2015).
Faktor ekonomi juga menjadi sorotan Iing. Karena berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah, sebagian besar keluarga menyerah ketika melakukan pengobatan. Obat asntipsikotik bagi gangguan jiwa yang mahal tentu sulit dijangkau oleh para warga yang rata-rata berprofesi sebagai petani.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Pemkab Ciamis pun sudah melakukan penanganan. Iing mengatakan bahwa Dinkes dan Dinsos sudah turun ke lapangan untuk melakukan penelitian di Desa Budiasih. Penelitian dilakukan untuk melihat riwayat kesehatan warga serta faktor apa saja yang kira-kira menjadi pencetus gangguan jiwa di sana.
"Ke depannya kita juga akan upayakan kerjasama untuk pencegahan. Kita akan turunkan psikolog sosial, tokoh agama, ulama, untuk memberikan bekal mental atau batin kepada para penduduk. Agar tak mudah stres dan jiwanya terlindungi," tuturnya.
Baca juga: Ada 18.000 Pemasungan di Indonesia
(mrs/up)











































