"Operasi akan membantu pasien yang organ kelaminnya tidak terbentuk sempurna, yaitu operasi rekonstruksi. Tapi pengobatannya beragam, dilihat dulu juga dari faktor penyebabnya," terang dokter spesialis urologi dari RS Asri Jakarta, dr Irfan Wahyudi, SpU, kepada detikHealth, Senin (2/2/2015).
Seperti misalnya jika dari hasil pemeriksaan ditemukan bahwa penyebab DSD ini muncul adalah karena kelainan hormon, maka untuk pengobatan bisa dilakukan dengan terapi hormon terlebih dahulu. Langkah ini dilakukan dengan memberikan obat-obat hormonal pada pasien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Menunggu 5,5 Tahun untuk Punya Anak, Ibu di Yogya Akhirnya Lahirkan Kembar 4
Menurut dokter spesialis bedah plastik dari RS Dr Soetomo Surabaya, Beta Subakti Nata'atmaja, MD, sebelum operasi pembentukan alat kelamin, status jenis kelamin yang bersangkutan harus dipastikan, baik secara genetika, hormonal, maupun kejiwaan. "Biasanya dilakukan pemetaan kromosom untuk menentukan jenis kelamin berdasarkan kode genetik (kromosom)," jelas dr Beta.
Selain itu dilihat status hormonalnya, karena terdapat perbedaan jelas jenis hormon dominan antara laki-laki dan perempuan. Di samping itu, hormon juga akan memengaruhi alat kelamin sekunder berdasarkan jenis kelamin yang dimaksud, seperti payudara pada perempuan, serta kumis dan jakun pada laki-laki.
Jika ternyata yang bersangkutan adalah perempuan, setelah operasi pembentukan penis bisakah kemudian operasi plastik lagi untuk dibuatkan vagina? "Bisa, justru membuat vagina lebih mudah dibandingkan membuat penis," terang dr Beta.
Operasi pembentukan alat kelamin biasanya diikuti dengan terapi hormon. Namun hal ini tergantung status hormon pasien. Umumnya, operasi seperti ini tidak dilakukan sekali saja.
Baca juga: Wow, Wanita Ini Menarik Bayinya Sendiri Keluar dari Rahim Saat Operasi
(ajg/vit)











































