Jamu biasanya diramu menggunakan tanaman herba yang diambil dari dalam hutan atau pegunungan, namun jika diteliti lebih jauh biota laut juga sebetulnya bisa digunakan untuk menjadi jamu. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, terutama mendorong hal tersebut.
Nasir mengatakan kekayaan diversitas biologi di Indonesia bisa banyak ditemukan di laut. Ia mengaku peneliti dari luar negeri yang menaruh perhatian besar dengan biota laut Indonesia, namun minat serupa tidak ia temukan dari peneliti lokal.
Menanggapi hal tersebut Koordinator Rumah Riset Jamu, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan RI, dr Danang Ardiyanto, mengatakan memang saat ini fokus ramuan jamu belum terlalu melirik biota laut. Fasilitas dan tenaga ahli yang belum memadai adalah alasan mengapa riset jamu menggunakan bahan dari laut masih minim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya pengertian dari obat tradisional sendiri termasuk dari mineral tambang juga laut. Cuma memang yang mengarah penelitian ke sana masih sedikit sekali," ujar dr Danang ketika ditemui di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, ditulis pada Jumat (6/2/2015).
"Biota laut maupun mineral tambang itu memang potensial sekali tapi kendalanya ahli masih sedikit dan kemudian memang pemerataan fasilitas masih kurang," imbuhnya.
Riset di B2P2TOOT dikatakan oleh dr Danang saat ini masih terfokus untuk tanaman herba. Alasannya karena dari sumber tanaman itu saja masih banyak ramuan jamu yang belum semuanya diteliti.
"Kita istilahnya mau satu-satu dulu. Dari tanaman obat ini terus kalau misalnya bertambah tidak menutup kemungkinan untuk ke biota laut itu," tutup dr Danang.
Baca juga: 5 Jamu Paling Ngehits: Beras Kencur Hingga Ekstrak Purwaceng
(up/up)











































