Namun tak hanya kemampuan ekonomi saja yang memengaruhi gizi buruk pada anak. Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan Indonesia, dr Anung Sugihantono, MKES, mengatakan bahwa ada tiga hal terkait makanan yang juga berpengaruh terhadap masalah nutrisi yakni kemampuan memilih, mengolah, dan penyajian makanan.
Baca juga: Dampak Kurang Nutrisi: 40 Persen Anak Indonesia 'Hang' Otaknya
"Memilih makanan dalam artian kemauannya untuk memilih membeli makanan bergizi dibandingkan hal-hal lain yang kurang penting, seperti pulsa atau rokok," tutur dr Anung, dalam diskusi Global Nutrition Report di Kantor Bappenas, Jl Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan bisa makanannya dengan tanaman dari rumah. Kalau makan makanan dari hasil sendiri kan tidak perlu beli, masih bisa makan sayur atau buah yang bergizi," tutur dr Anung lagi.
Baca juga: Pendek Karena Gen, Orang Indonesia Perlu Patokan Pertumbuhan Khusus
Selanjutnya, mengolah makanan tak tepat juga bisa pengaruhi gizi buruk pada anak. Misalnya dengan memasak sayuran terlalu lama hingga kandungan nutrisinya hilang atau terlalu banyak menggunakan minyak saat menggoreng makanan.
Terakhir adalah kepada siapa makanan tersebut disajikan. Menurut dr Anung, istri atau ibu rumah tangga punya kecenderungan untuk lebih memilih menyenangkan suami daripada memenuhi kebutuhan nutrisi anak, termasuk dalam menu makanan.
"Bisa saja misalnya makannya ada, tercukupi, tapi disajikannya hanya untuk suami. Anak tidak kebagian, ini juga bisa pengaruhi gizi buruk pada anak," pungkasnya.
(mrs/vit)











































