Studi yang diterbitakan dalam jurnal PloS One menemukan bahwa produk perawatan pribadi seperti hand sanitizer dirancang untuk dapat memecah lapisan luar pelindung kulit. Sehingga, produk tersebut dapat lebih mudah diserap tubuh. Namun, saat hand sanitizer menembus kulit seseorang, kadar tinggi zat estrogen seperti bahan kimia jenis Bhispenol A (BPA) bisa menempel di tangan.
Para peneliti membandingkan kandungan BPA pada kelompok orang yang menggunakan hand sanitizer dengan kelompok orang yang tidak menggunakan hand sanitizer sebelum memegang struk belanja. Hasilnya, kelompok orang yang menggunakan hand sanitizer sebelum memegang struk belanja mengandung BPA 185 kali lebih banyak di tangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPA merupakan senyawa kimia yang terkandung dalam botol plastik kemasan styrofoam yang dapat merusak hormon tubuh. Kandungan BPA tersebut juga ditemukan meningkat dalam darah dan urine seseorang. Sementara itu, wanita cenderung menyerap BPA lebih cepat daripada pria karena memiliki kulit yang lebih tipis.
"Kami melihat efek dari BPA yang berkaitan dengan peningkatan obesitas, serangan jantung, dan diabetes tipe 2. Potensi itu bisa dicegah dengan tidak menggunakan hand sanitizer sebelum memegang struk belanjaan," ucap Frederick Vom Saal, PhD yang terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip dari Prevention, Kamis (12/2/2015).
Ia menambahkan, untuk menghindari risiko itu juga bisa menggunakan versi struk digital yang didapat dari belanja online. Namun kalau tidak bisa, maka gunakan sarung tangan atau mencuci tangan dengan sabun bisa menjadi salah satu solusi.
Baca juga: Yuk Dicek, Sudah Tepat Belum Cara Anda Cuci Tangan Pakai Sabun?
Penelitian lain yang dilakukan Dr Adam J Spainer dan timnya menunjukan bahwa penyebab asma tidak hanya asap rokok dan polusi udara, tetapi juga karena kandungan BAP yang terdapat di dalam makanan dan minuman kaleng. Bahkan tidak hanya asma, tapi kandungan BPA bisa saja menimbulkan gangguan kesehatan lain seperti migrain, gangguan perkembangan otak calon bayi, kanker prostat, kanker payudara, hingga keguguran.
Dr Adam pun berencana akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan BPA dan kesehatan sistem pernapasan. Untuk sementara ini, ia menyarankan agar semua wanita hamil maupun yang berencana akan hamil sebaiknya menghindari BPA dengan cara mengurangi konsumsi makanan dan minuman kaleng. Nah, ketika seseorang mencari botol minum, sebaiknya pilihlah botol plastik yang mencantumkan label 'BPA-free' atau bebas kandungan BPA.
Baca juga: Sering Mengonsumsi Makanan Kaleng Saat Hamil, Bayi Rentan Mengidap Asma
(rdn/up)











































