Agar tidak gampang sakit seusai banjir, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Karyadi, M.Kep, PhD, memberikan beberapa saran. Pertama, jangan mengonsumsi ataupun menggunakan air yang secara kasat mata tidak bersih. Ingat, air yang aman dikonsumsi adalah yang tidak berwarna dan tidak berbau.
"Jadi kalau secara kasat mata tidak bersih lebih baik tidak, apalagi yang telah terkontaminasi dengan feces. Di alam terbuka kan banyak kuman, tapi ada yang terkontaminasi dan ada yang tidak, cara efektif bisa melalui proses penjernihan dan penyulingan," ujarnya dalam perbincangan denagn detikHealth dan ditulis pada Kamis (12/2/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ada sekitar 20 persen kuman di sekitar permukaan kulit misalnya di telinga, tangan, dan kaki. Namun kuman itu tidak akan mempengaruhi kesehatan tubuh bila tidak dipengaruhi oleh derajat patogenesis, banyaknya jumlah bakteri yang menumpuk, jenis dan kekuatan bakeri, adanya jalan masuk bakteri, dan daya tahan tubuh.
Kedua, Karyadi menyarankan agar lumpur banjir yang masuk ke rumah segera dibersihkan dengan disiram menggunakan air biasa. Setelah itu baru dibersihkan dengan desinfektan yang banyak dijual di pasaran. "Jadi setelah bersih secara kasat mata, tempat tinggal juga bersih dari kuman," ucapnya.
Ketiga, menjaga area yang ditinggali tetap kering. Karena bakteri bisa hidup di daerah lembab. Keempat, beristirahatlah yang cukup. Tinggal di pengungsian bukan perkara mudah. Bersih-bersih rumah juga cukup menguras tenaga, karena itu ada baiknya segera beristirahat.
"Istirahat yang cukup juga harus dilakukan untuk menjaga daya tahan tubuh karena kan orang yang banjir suka kurang tidur," kata Karyadi.
Cemaran Air Banjir
Menurut Karyadi, secara umum air yang menggenang saat banjir berasal dari air tanah. Akan tetapi, saat meluap air tersebut bercampur oleh komponen lain seperti feses, bakteri, cairan lain, dan sampah yang bisa membuat tercemar.
"Untuk menentukan bahaya atau tidak kondisi air itu kalau terkontaminasi, misalnya terkontaminasi dengan feses. Sepanjang tidak terkontaminasi tidak masalah, buktinya dulu masyarakat bisa langsung meminum air dari sungai," ujar Karyadi.
Dia menjelaskan lumpur pasca air surut tidak akan berbahaya bila hanya mengendap di rumah dalam jangka pendek atau langsung dibersihkan. Namun jika bakterinya banyak, jalan masuk bakterinya ada, dan daya tahan tubuh lemah, seseorang bisa sakit. Nah, saat banjir, penyakit yang sering muncul ialah diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gatal-gatal, leptospirosis, dan penyakit lain.
Baca juga: Berisiko Cedera, Anak-anak Jangan Berenang di Air Banjir
Dijelaskan Karyadi, jalan masuk bakteri berbeda-berbeda. Ada yang melalui sistem pernapasan, sistem pencernaan, kontak dengan kulit, kontak dengan cairan, dan alergi.
"Jika kontak kulit, kuman bisa menginfeksi tubuh bila ada luka terbuka. Kalau kulit berkontak dengan cairan, tanpa menunggu luka yang terbuka pun efeknya bisa langsung dirasa misalnya kulit terkena air keras maka efeknya akan melepuh. Sementara untuk orang-orang berkulit sensitif bisa rentan mengalami gatal-gatal," tutup Karyadi.
(vit/vit)











































