Hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa setiap tahanan yang masuk untuk penyakit TB dan AIDS. Di rutan Cipinang, TB merupakan salah satu penyakit dengan pengidap terbanyak dengan jumlah 20 kasus infeksi per November 2014.
Koordinator Poliklinik Rutan Klas 1 Cipinang, dr Yulius Sumarli, SH, mengatakan pemeriksaan dilakukan karena beragam macam orang masuk ke rutan setiap harinya. Lingkungan rutan yang tertutup dan padat akan menjadi inkubator yang tepat bagi bakteri jika tahanan baru masuk tanpa pengawasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Rutan dan Lapas di Indonesia Terlalu Penuh, Warga Binaan Banyak yang TBC
Selain pemeriksaan dini petugas kesehatan juga memberikan sosialisasi yang dibantu oleh tahanan lainnya. Jika ada tahanan yang batuk lebih dari beberapa hari temannya bisa memberitahu petugas yang nanti akan memeriksa dan membawanya ke klinik rutan jika diperlukan.
"Kalau batuk di sini sudah kita sediakan masker gratis tinggal dipakai saja. Sosialisasi juga kita berikan setiap hari karena tahanan baru itu kan ada terus dan susah dibedakannya kalau sudah campur di dalam," kata dr Yulius yang menambahkan sistem deteksi TB ini sudah berjalan sejak tahun 2008.
Tahun 2013 sekitar 4,3 persen populasi rutan terserang TB dan angka tersebut meningkat menjadi 4,7 persen pada tahun 2014. dr Yulius mengatakan peningkatan tersebut bukan hal yang negatif namun merupakan tanda keberhasilan dari program. Ada banyak kasus TB sebelumnya yang tidak terdeteksi dan kini bisa diketahui akibat proses skrining sehingga mencegah penularan lebih jauh.
Baca juga: Begini Bentuk Integrasi Pelayanan TB-HIV di Puskesmas Tebet
(up/up)











































