Selasa, 10 Mar 2015 16:04 WIB

Datang ke UGM, Dokter Pelopor 'Cuci Otak' Perkenalkan Metodenya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Yogyakarta -

Masih ingat dengan terapi 'cuci otak' yang pernah dilakoni mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan? Dokter ahli radiologi yang mempelopori metode ini ternyata tengah berkunjung ke Universitas Gadjah Mada untuk memperkenalkan (kembali) metodenya itu.

Di Indonesia, penyakit serebrovaskular atau kelainan pada pembuluh darah otak seperti stroke merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi. Bahkan diklaim sebagai penyebab utama disabilitas jangka panjang pada orang dewasa.

Bahkan dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 diketahui bahwa prevalensi stroke di Indonesia menunjukkan peningkatan dari yang semula 8,3 kasus per 1.000 penduduk, menjadi 12,1 kasus per 1.000 penduduk. Untuk itu, inovasi penanganan penyakit serebrovaskular terus dinantikan.

Salah satu yang diklaim sukses mengembangkan inovasi tersebut adalah Brigjen CKM dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Pada tahun 2005-2006, ia berhasil mengembangkan sebuah metode yang diklaim dapat menangkal stroke. Metode ini lazim disebut dengan 'brain washing' atau 'cuci otak'.

Baca juga: Terapi Cuci Otak, Kreasi Anak Negeri yang Penuh Kontroversi

"Selain mengatasi stroke tersumbat maupun stroke pendarahan, ini menyangkut pula upaya pencegahan, supaya tidak terjadi stroke tersumbat maupun stroke perdarahan. Ketiga kami ingin bagaimana memperbaiki kondisi yang rusak akibat stroke agar bisa mengalami peningkatan menjadi lebih baik," katanya dalam jumpa pers Seminar Kemajuan Mutakhir dan Peluang Pengembangan Radiologi Intervensi yang digelar UGM Yogyakarta, Selasa (10/3/2015).

dr Terawan mengungkapkan metode yang ia gunakan tidaklah baru, hanya saja ia bisa memodifikasi metode konvensional dalam penanganan stroke, sehingga hasil (outcome) dari tindakan radiologi intervensi terhadap pasien juga membaik. "Tujuannya semata untuk meningkatkan safety, keamanan pasien, karena safety itu menjadi tolok ukur keberhasilan dunia medis," imbuhnya.

Namun dr Terawan tidak menampik bila di awal pengembangan metodenya, muncul berbagai istilah di tengah masyarakat seperti 'brain washing', 'cuci otak' 'mencuci gorong-gorong otak', atau 'spa otak'. "Saya akui memang waktu itu belum ada namanya karena itu hasil dari inovasi. Semua boleh memberi nama semaunya," paparnya lagi.

Kendati begitu, beberapa tahun kemudian, kabar tentang metode radiologi yang dikembangkan dr Terawan ternyata sampai ke telinga sejumlah ilmuwan di luar negeri. "Kebetulan saya dapat email rekan kita yang ada di RS Augusta, Dusseldof, merekalah yang justru memberi nama tindakan kita dengan DSA (Digital Subtraction Angiography) Modifikasi Terawan," ungkapnya.

Bahkan seperti dikutip dari tulisan Dahlan Iskan di www.jpnn.com, Selasa (10/3/2015) berjudul 'Pilih Spa Atas, Tengah atau Bawah', di RS Augusta tersebut telah tersedia spa otak ala dr Terawan sebagai salah satu alternatif penanganan stroke.

"Beliau datang khusus untuk diskusi dengan saya. Sang profesor langsung paham apa yang dilakukan Terawan. Bahkan langsung minta ijin untuk mempraktekkannya di Jerman. "Di sana tidak heboh. Tidak ada yang menentang," tutur dr Terawan kepada Dahlan.

Secara garis besar, ada tiga kelebihan yang dimiliki metode pencegahan stroke ala dr Terawan:
1. Dari aspek dampak radiasi, metode 'cuci otak' dapat mengurangi paparan radiasi sebesar sepersepuluh hingga seperduapuluh. "Kalau saya menggunakan teknik biasa, maka saya akan memakai 300-400 mGy, tapi kalau saya menggunakan teknik ini, saya paling banyak hanya butuh 25 mGy," ungkapnya.

2. Dari sisi jumlah zat kontras atau cairan pewarna yang digunakan dalam radiologi intervensi. dr Terawan mengatakan metodenya mampu menurunkan jumlah zat kontras menjadi sepersepuluhnya

"Kontras itu bisa mengancam ginjal, makin besar cairan kontras yang diberikan, artinya ancaman ke ginjal makin besar. Dan ini saya turunkan, biasanya saya pakai 10-15 cc, 15 cc itu saja sudah berlebihan. Tapi kalau normatif, saya harus menggunakan 80-100 cc. Artinya me-reduce kemungkinan adanya ancaman ke ginjal," terangnya.

3. Penyederhanaan teknik sehingga tindakan radiologi intervensinya menjadi lebih simpel, yang pada akhirnya menurunkan kemungkinan komplikasi, dengan akurasi hasil yang tidak jauh berbeda dengan metode konvensional.

dr Terawan mengungkapkan metodenya tak lagi diterapkan di RSPAD Gatot Subroto saja, namun hampir di penjuru Indonesia seperti Manado, Medan, Denpasar dan Surabaya. "Ada juga rumah sakit kecil atau rumah sakit swasta, yang penting ada peralatannya. Kayak di Surabaya, RS Husada Utama, RS Haji itu kami didik semua. Hanya jumlah kasusnya tidak terlalu menonjol sehingga tidak menjadi perhatian. Di Sardjito juga ada," ujarnya.

RSPAD Gatot Subroto, lanjut dr Terawan, dianggap sebagai rujukan dari DSA Modifikasi Terawan karena kasus stroke yang ditangani rumah sakit merupakan salah satu yang terbanyak di Indonesia, bahkan banyak pasien dari luar negeri yang jauh-jauh datang ke Indonesia hanya untuk mendapatkan metode dr Terawan. "Kemarin sebelum saya kesini ada 8 pasien asing, yang 6 dari Malaysia, 1 dari Taiwan dan 1 dari Papua Nugini.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Dr Chairul Radjab Nasution, SpPD-KGEH, FINASIM, FACP, M.Kes., staf ahli Menteri Kesehatan bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi mengatakan Kementerian Kesehatan mempunyai sistem khusus untuk mengantisipasi munculnya hal-hal atau temuan-temuan baru, tidak terkecuali dalam bidang radiologi intervensi.

"Tentunya apapun yang kita dapatkan hari ini perlu adanya koordinasi lintas institusi, karena masalah-masalah yang muncul terkait temuan baru semacam ini menyangkut banyak profesi. Untuk itulah kami mendorong agar pengembangan ini makin baik tapi juga tentunya sesuai standar yang ada," tegasnya.

Seperti diberitakan detikHealth sebelumnya, terapi cuci otak yang dikembangkan dr Terawan masih mengundang kontroversi, bahkan diragukan di kalangan rekan seprofesinya. Baca juga: Dahlan Iskan: Siapa Bilang Cuci Otak Aman?

(lll/vta)