Dipublikasikan dalam British Medical Journal, kondisi ini terutama sangat mungkin terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Dalam studi ini, para peneliti dari Edinburgh University menganalisis hasil dari 94 studi sebelumnya yang mencakup 28 negara di seluruh dunia.
Temuan menunjukkan bahwa tren yang konsisten. Bahkan kenaikan tingkat polusi dalam jangka pendek dikaitkan dengan peningkatan jumlah orang yang mengidap stroke dan kematian akibat stroke.
Para peneliti memeriksa beberapa kemungkinan polutan, seperti sulfur dioksida, nitrogen dioksida, karbon monoksida dan partikel halus yang disebut PM 2.5.
Baca juga: Perkembangan Otak Anak Bisa Terganggu Gara-gara Paparan Polusi Udara
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu perbedaan utama antara risiko stroke akibat polusi udara dan faktor risiko lain seperti merokok atau tekanan darah tinggi adalah fakta bahwa populasi umum terkena dampaknya. Dengan demikian, peningkatan risiko stroke ini berdampak pada populasi umum dan bukan hanya pada mereka yang sebelumnya dianggap berisiko tinggi," papar Shah.
Seperti dikutip dari Health Me Up, Kamis (2/4/2015), para peneliti menemukan hubungan antara peningkatan kadar karbon monoksida, sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dengan angka kejadian stroke.
"Hasil ini menunjukkan bahwa dibutuhkan perubahan kebijakan untuk mengurangi eksposur di daerah yang berisiko tinggi tercemar polusi udara," imbuh Shah.
Baca juga: Ekspos Polusi Udara Pada Ibu Hamil Bisa Tingkatkan Risiko Autisme Anak
(ajg/vta)










































