Selasa, 21 Apr 2015 14:49 WIB

Kisah Sopir di Jakarta Merawat 27 Anak Yatim, Salah Satunya Cerebral Palsy

- detikHealth
Panti YBKN Al Hasyim (Foto: Uyung / detikHealth) Panti YBKN Al Hasyim (Foto: Uyung / detikHealth)
Jakarta -

Untuk ukuran Jakarta, Joko (48) yang hanya seorang sopir bukan termasuk orang berkelimpahan. Hanya bermodal ikhlas, ia merawat 27 anak yatim termasuk seorang bayi yang mengidap cerebral palsy.

"Namanya Atar, usianya baru 11 bulan. Dari 'procot' lahir di puskesmas sudah ditinggal sama orang tuanya," tutur Joko sambil menunjuk Atar, anak asuhnya yang mengidap cerebral palsy atau kelumpuhan otak bawaan.

Digendong Euis pengasuhnya, Atar tampak kurus dan lesu. Bobotnya hanya 4,7 kg. "Ini sudah mendingan, dulu datang bobotnya cuma 3 kg," kata Euis, ditemui di Yayasan Benih Kebajikan Nusantara (YBKN) Al Hasyim, Jl Warung Silah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2015).

Gangguan kelumpuhan otak yang diidap Atar berdampak pada paru-parunya. Produksi lendir pernapasannya tidak terkontrol, sehingga Atar selalu batuk dan mengeluarkan dahak saat ditidurkan. Seminggu sekali, ia harus kontrol ke dokter dan menjalani terapi pijat.

Selain Atar, di panti binaan Joko juga ada Farhana, seorang bayi perempuan berusia 8 bulan. Berbeda dengan Atar, Farhana justru kelihatan bongsor karena kelebihan berat badan. Hingga tulisan ini dimuat, Farhana masih dirawat di RS Marinir Cilandak karena terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).

Baca juga: Mensos Siap Online-kan Jaminan Kesehatan untuk Bayi Baru Lahir

"Sore ini sudah bisa pulang. DBD-nya sudah sembuh, tapi ada pneumonia jadi nantinya masih harus kontrol berobat jalan," kata Musyarofah (48) alias Tati, istri Joko yang menunggui Farhana di Ruang Dahlia, RS Marinir Cilandak.

Menurut Joko, seharusnya Farhana dirawat di PICU (Paediatric Intensive Care Unit). Dokter di RSIA Andhika Ciganjur menyarankan untuk dirawat di RS Hermina, namun karena ongkosnya diperkirakan mencapai Rp 10 juta/hari maka Joko dan Tati memutuskan untuk membawanya ke RS Marinir Cilandak.

"Mereka (anak-anak asuhan Panti YBKN Al Hasyim) ini tidak punya BPJS. Mau diurus, nama mereka tidak ada di KK (Kartu Keluarga). Akta lahir juga tidak punya, ya susah juga mengurusnya," kata Tati.

Joko sendiri baru saja selesai menjalani perawatan di RS Marinir Cilandak, juga karena DBD. Sejak 2002 ia terpanggil untuk mengasuh anak yatim dan pada 2011 mendirikan Panti YBKN Al Hasyim. Saat ini, sopir yang murah hati ini mengasuh 27 anak yang tidak terurus oleh keluarganya atau bahkan tidak punya keluarga.

Baca juga: Kisah Imas, Berjuang Merawat Putrinya yang Belum Bisa Jalan di Usia 7 Tahun

(up/vit)