'Sex-selective' aborsi adalah tindakan pengguguran bayi dengan mempertimbangkan faktor jenis kelamin bayinya. Seperti kebanyakan bangsa Asia, Tiongkok memiliki tradisi yang cenderung bias kepada anak laki-laki yang dianggap sebagai penerus yang dapat mereka andalkan di garis keluarga mereka.
Kebanyakan keluarga mengaborsi janin perempuan dan mengabaikan bayi perempuan. Di Tiongkok pada tahun 2014 terdapat 116 kelahiran anak laki-laki dari 100 kelahiran anak perempuan, berlawanan dengan rata-rata dunia yaitu 103 dari 107, berdasarkan pada laporan agensi berita Xinhua dan dikutip dari Reuters pada Jumat (8/5/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kampanye ini akan dilaksanakan pada November mendatang yang berfokus pada pusat kesehatan dan institusi perencanaan keluarga, termasuk juga lembaga 'kesuburan' ilegal, klinik dan dokter keliling.
Pemerintah juga akan meningkatkan kontrol pada peralatan medis dan obat-obatan yang digunakan pada USG dan aborsi, dan mem-blacklist organisasi yang terlibat dalam praktek tersebut.
Peneliti telah memperingatkan bahwa ketidakseimbangan rasio laki-laki dan perempuan yang besar mampu mengarahkan pada ketidakstabilan, seperti banyaknya laki-laki yang tidak menikah, meningkatnya risiko anti-sosial dan tindakan kekerasan. Masalah tersebut telah memicu penculikan perempuan untuk kawin paksa dan perdagangan anak.
Sebelumnya pada akhir 2013, Tiongkok mengatakan akan mengurangi pembatasan keluarga berencana. Kritikus menyatakan bahwa pelonggaran aturan tersebut terlalu kecil dan terlambat untuk memperbaiki efek negatif pada ekonomi dan masyarakat.
Baca juga: Iran Akan Larang KB, Pengamat HAM: Wanita Seperti Mesin Pembuat Bayi
(ajg/up)











































