ADVERTISEMENT

Senin, 15 Jun 2015 07:13 WIB

Metode 'Cuci Otak' Ala dr Terawan, Seperti Apa Sih?

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Nurvita/detikHealth
Jakarta - Pasien stroke yang semula kesulitan berjalan dan berbicara, begitu bertemu dr Terawan Agus Putranto Sp. Rad (K) memiliki perubahan yang signifikan. Pasien tersebut kembali bisa berjalan dan berbicara dengan normal. Bukan sihir, karena dr Terawan menerapkan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Subtraction Angiogram).

Seperti apa metodenya? Sebenarnya dr Terawan hanya memodifikan DSA yang sudah berkembang sejak tahun 90-an dengan tujuan meningkatkan keamanan pada pasien dari ancaman paparan radiasi, lantaran jumlah radiasi dapat diredam hingga 1/40 dari jumlah radiasi biasa yang dilakukan di luar negeri. Metode ini juga ramah pada ginjal pasien.

"Metode dimulai dengan pemeriksaan detail. Dilakukan brain chek-up dengan MRI, neurologi. Ada kelengkapan neurofisiologis dan juga neurobehaviour karena ini berkait dengan tindakan untuk mengetahui ada kelainan apa di otak," papar dr Terawan usai mendapat penghargaan dari Hendropriyono Strategic Consulting di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta, dan ditulis pada Senin (15/6/2015).

Baca juga: Sosok di Balik Terapi Brainwash Penangkal Stroke yang Kontroversial

Saat melakukan metode ini, dr Terawan tidak sendiri melainkan juga melibatkan dokter spesialis yang lain seperti ahli endokrin dan juga penyakit dalam. Dengan demikian langkah yang diterapkan pada pasien benar-benar tepat dan aman. Sebab menurutnya tidak semua kasus mendapatkan metode ini, tergantug pada kondisi pasien.

"Jadi kita turunkan dosisi radiasi yang biasanya di atas 300 miligray hanya jadi 25 miligray. Kontras 100 cc hanya jadi kurang dari 10 cc agar tidak bahayakan ginjal," imbuh pria yang juga Direktur RSPAD ini.

Teknik DSA dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha. Ini dilakukan untuk melihat apakah ada penyumbatan pembuluh darah di area otak. Karena penyumbatan bisa mengakibatkan aliran darah jadi macet sehingga saraf tubuh tidak bisa bekerja dengan baik. Kondisi ini umum terjadi pada pasien stroke.

Saat ini RSPAD dalam sehari rata-rata menerima pasien 35 pasien dalam sehari yang mendapat perawatan dengan metode DSA. Tindakan umumnya dilakukan dalam kurun waktu 25 menit. Biayanya memang cukup mahal yakni Rp 30-40 juta. Namun dengan efisiensi yang didapat, harganya dirasa sebanding.

"Efek samping harus selalu diperhatikan, makanya semua pasien terus dimonitor. Sejauh ini masih terus berdoa agar tidak muncul efek sampingnya," kata dr Terawan sambil tersenyum.

Baca juga: Hendropriyono Beri Penghargaan ke dr Terawan, Penemu Metode 'Cuci Otak'

(vta/vta)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT