ADVERTISEMENT

Senin, 15 Jun 2015 08:37 WIB

dr Terawan Tak Berniat Patenkan Metode 'Cuci Otak'

Nurvita Indarini - detikHealth
Foto: Nurvita/detikHealth
Jakarta - dr Terawan Agus Putranto Sp. Rad (K) merupakan sosok si balik metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Subtraction Angiogram). Metode ini dikenal pula sebagai 'cuci otak'. Namun demikian dia tidak berniat untuk mematenkan metode tersebut.

"Tidak berniat mematenkan, karena agar bisa dilakukan dokter manapun yang berkompeten dan bisa menolong lebih banyak orang," ujar dr Terawan usai mendapat penghargaan dari Hendropriyono Strategic Consulting di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta, dan ditulis pada Senin (15/6/2015).

Menurut dia metode DSA sudah ada sejak tahun 90-an. Dirinya hanya melakukan modifikasi saja. dr Terawan sendiri sejak tahun 2006 sudah memberikan banyak pelatihan tentang metode tersebut. Harapannya tentu agar DSA modifikasi tidak hanya bisa diberikan di RSPAD Gatot Soebroto, tetapi juga di rumah sakit yang lain.

Baca juga: Metode 'Cuci Otak' Ala dr Terawan, Seperti Apa Sih?

"Kesembuhan itu dari Tuhan. Dokter membantu pasien mendapatkan diagnostik yang tepat. Tindakan medis kepada pasien tergantung dari apa yang ditemukan," imbuh pria yang juga Direktur RSPAD ini.

Saat menangani pasien, dr Terawan menganggap semua pasien sakit parah. Dengan demikian semua pasien akan mendapat pemeriksaan yang detail. Karena itulah dibentuk tim dokter yang berisi para ahli sebelum DSA modifikasi diterapkan. dr Terawan sendiri enggan menyebut metode itu sebagai cuci otak.

"Kami belajar. Menemukan metode ini karena terus belajar. Saya berterimakasih karena sebelumnya sudah dikirim untuk berlajar ke negara lain, misalnya saja ke Jepang. DSA sendiri ada di seluruh dunia," ucap dokter murah senyum ini.

Baca juga: Hendropriyono Beri Penghargaan ke dr Terawan, Penemu Metode 'Cuci Otak'

(vta/vta)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT