dr Dolphin menyebut, helium dipakai dalam pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging). Gas paling ringan kedua setelah hidrogen tersebut juga digunakan sebagai campuran oksigen untuk mengatasi kesulitan bernapas di rumah sakit.
"Gas yang tak ternilai, dan tidak tergantikan ini benar-benar diberikan pada anak-anak dalam bentuk balon sehingga mereka terhibur untuk beberapa menit sampai akhirnya bosan dan dilepas," kata dr Dolphin, dikutip dari Mirror, Jumat (26/5/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun gagasan untuk melarang helium sebagai pengisi balon gas juga mendapat kritik. dr Trevor Pickersgill dalam pertemuan tahunan British Medical Association menyebut larangan penggunaan helium akan meningkatkan penggunaan gas medis lain yakni nitro-oksida yang dikenal sebagai gas tertawa.
dr Pickersgill menyebut sedikitnya 17 orang di Inggris tewas menghirup gas ini. Balon berisi nitro oksida yang dijual dengan harga 2 poundsterling atau sekitar Rp 40 ribu ini bisa menyebabkan euforia dan perasaan rileks jika gasnya terhirup.
"Saya tidak mengatakan kita harus melarang semua balon gas, hanya yang diisi dengan gas unik yang sangat mahal, berharga, dan tidak terbarukan, dan akan kita cari saat gas-gas tersebut sudah tidak ada lagi," kata dr Dolphin.
Helium (He) populer sebagai pengisi balon gas karena dinilai lebih aman. Gas lain yang juga dipakai sebagai pengisi balon gas adalah Hidrogen (H), yang merupakan jenis gas paling ringan. Sayangnya, Hidrogen punya sifat mudah terbakar sehingga tidak aman digunakan untuk mainan.
Baca juga: Hai Orang Tua, Yuk Waspadai Kandungan Paraben pada Mainan Plastik Anak (up/vit)











































