Jumat, 26 Jun 2015 13:46 WIB

Keren Tanpa Narkoba

Ini Dia Narkoba yang Paling Banyak Digunakan di Indonesia Versi BNN

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Topik Hangat Keren Tanpa Narkoba
Jakarta - Ada beberapa jenis narkoba yang marak tersebar di Indonesia, mulai dari yang harganya terjangkau hingga yang sangat mahal. Di antara sekian banyak jenis narkoba tersebut, terdapat tiga jenis narkoba yang paling populer. Apa saja?

Disampaikan oleh Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN), dr Diah Setia Utami, SpKJ tiga jenis narkoba yang paling banyak digunakan adalah ganja, Amphetamine Type Stimulants (ATS), serta Obat-obatan Daftar G.

"Biasanya anak-anak usia sekolah itu kalau iseng berniat mencoba narkoba, yang dicoba itu ganja. Mungkin karena bentuknya yang mirip-mirip seperti rokok. Harganya juga relatif murah dibandingkan narkoba jenis lain misalnya heroin," ujar dr Diah saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (26/6/2015).

Sementara narkoba jenis ATS disebutkan oleh dr Diah umumnya memiliki fungsi stimulan. Berbeda dengan narkoba lain yang dapat menimbulkan sakau, golongan narkoba jenis ATS atau yang sering disebut sebagai narkoba sintetis seperti sabu dan ekstasi tergolong ringan karena tidak menimbulkan sakau.

Baca juga: Pesantren Suryalaya Obati Pecandu Secara Islami, Ini Dia Tantangannya

Namun demikian bukan berarti lantas narkoba ATS tak berbahaya. Tingkat bahaya narkotika alami maupun sintetis sama saja, karena berdampak pada kerusakan saraf otak dan mengakibatkan ketagihan.

"Obat-obatan daftar G itu bukan narkotika, tapi termasuk obat keras dan menimbulkan efek tertentu jika dikonsumsi sembarangan. Termasuk obat batuk dan obat anti parkinson," tutur dr Diah.

Ya, salah satu obat daftar G yang sering disalahgunakan dan populer akhir-akhir ini adalah Trihexypenidyl (THP) atau dikenal dengan Trihex. Obat yang dikenal pula sebagai pil kuning oleh remaja ini merupakan obat untuk penyakit parkinson. Dokter mengatakan obat ini berfungsi untuk mengurangi efek tremor yang biasa dialami oleh pasien penyakit tersebut.

dr Andri SpKJ dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan konsumsi pil kuning dalam jumlah banyak akan memengaruhi otak. Dikatakan dr Andri, otak akan mengalami penurunan fungsi kognitif dan daya pikir alias menjadi lemot. "Efek jangka panjangnya itu, jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan terus menerus akan menurunkan fungsi kognitif otak. Akan ada penurunan daya pikir," ungkap dr Andri.

(ajg/vit)
Topik Hangat Keren Tanpa Narkoba