Menggantung Harapan pada Benang Bedah Produksi dalam Negeri

Menggantung Harapan pada Benang Bedah Produksi dalam Negeri

Nurvita Indarini - detikHealth
Minggu, 20 Sep 2015 09:18 WIB
Menggantung Harapan pada Benang Bedah Produksi dalam Negeri
Foto: ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang
Jakarta - Selama ini benang bedah masih bergantung impor. Kini anak negeri bisa produksi sendiri. Asa pun digantung.

Benang bedah merupakan salah satu alat kesehatan yang penting, apalagi Indonesia selama ini masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan ini. Sekitar 90 persen benang didapat dari Amerika Serikat dan Jerman.

Asumsi kebutuhan benang bedah di Indonesia tinggi mengingat seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan luka. 30 Persen BPJS pun terserap untuk keperluan bedah. Belum lagi untuk operasi-operasi lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usus kucing menjadi bahan pembuatan benang bedah, di mana saat diaplikasikan, benang ini bisa langsung diserap tubuh. Dengan demikian tidak perlu melepas jahitan. Namun seiring berkembangnya teknologi, dikembangkan juga dari sintetis.

Demi memenuhi kebutuhan benang bedah dalam negeri dengan harga lebih murah, PT Triton Manufactures pun memproduksi alat kesehatan tersebut. Dengan kualitas yang sama dan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri, benang bedah tersebut dijual lebih murah 30-40 persen ketimbang benang bedah impor.

Baca juga: Usai Jalani Operasi Caesar, Ada Ponsel Tertinggal di Perut Wanita Ini

Mengapa bisa murah? Menurut informasi yang diperoleh Menkes Nila F Moeloek, karena benang bedah produksi dalam negeri tidak perlu membayar pajak dan biaya lain seperti barang-barang impor. Sementara itu biaya transportasinya juga lebih murah, karena lebih dekat.

Kini benang bedah buatan anak negeri juga telah masuk ke dalam e-catalog. Dengan telah mengantongi izin edar dan memiliki harga yang bersaing, tentu benang bedah ini bisa menjadi pilihan.

Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Maura Linda Sitanggang, Apt., Ph.D mengatakan saat ini baru satu produsen benang bedah di Indonesia. Namun diharapkan ke depannya muncul produsen-produsen serupa sehingga Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi alat-alat kesehatan.
Roadmad terkait alat kesehatan untuk 10 tahun mendatang, terdapat dua strategi yang dikedepankan. Pertama, substitusi impor. Kedua, bisa melakukan ekspor.

Jika kebutuhan alat kesehatan dipenuhi sendiri, tidak mengandalkan impor, maka pembiayaan akan lebih lebih efisien. "Dengan efisiensi alat kesehatan, maka pembiayaan melalui INA-CBGs (standar tarif BPJS Kesehatan) akan dievaluasi, tentunya akan lebih efisien tarif di rumah sakit," kata Linda di sela-sela peresmian pabrik benang bedah nasional PT Triton Manufactures di kawasan industri Sentul,  Jl Cahaya Raya Kav H4A, Leuwinutug,  Citeureup, Bogor, seperti ditulis Minggu (20/9/2015).

Baca juga: Produksi Benang Bedah Sendiri, Indonesia Diharap Lebih Mandiri

Kalangan dokter pun berharap dengan hadirnya benang bedah produksi anak negeri bisa memangkas angka infeksi. Ahli bedah digestive, Prof dr Syamsu Hidayat SpB(K) mengatakan kendati operasi dilakukan di ruangan yang diupayakan begitu steril, namun peluang infeksi tidak bisa dihilangkan. Angka infeksi bervariasi 1,5-2 persen, bahkan 5 persen.

"Infeksi ini bisa karena benangnya, bukan karena dokternya. Kontaminasi yang didapat dari transport diharap bisa diminimalkan," kata Prof Syamsu dalam kesempatan yang sama.

Mantan Rektor Unhas, Prof Dr dr Idrus A Paturusi SpBO berharap dengan harga yang lebih murah ketimbang benang bedah impor, maka bisa klop dan malah bisa plus, terkait adanya subsidi dari BPJS. Apalagi jika kualitasnya tidak kalah dari yang impor.

Untuk bahan baku, saat ini memang belum bisa 100 persen tidak impor. Namun setidaknya sudah mengarah untuk meminimalkan impor barang dalam bentuk jadi. (vit/up)

Berita Terkait