"Selain itu kami melihat DIY sering menjadi destinasi favorit untuk pensiunan. Salah satunya mungkin karena harga kebutuhan pokok di sini lebih murah dari kebanyakan kota lain," papar Mirna Aulia, seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, di kampusnya, Jumat (25/9/2015).
"Posyandu lansia itu pada kenyataannya tidak berjalan secara aktif. Kadang cuma pertemuan sebentar, pemeriksaan trus pulang," lanjut Mirna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program kami dilaksanakan di kampung bernama Cokrokusuman yang terletak di bantaran Kali Code. Kampung ini terpilih karena sudah lama berdiri dengan populasi yang kebanyakan lansia. Total ada 40 warga yang berusia di atas 60 tahun di kampung tersebut," lanjutnya.
Baca juga: Kegiatan di Posyandu Lansia, Cek Kesehatan Hingga Kumpul Seru Bareng Teman
Pemberdayaan ini mereka pusatkan pada berbagai kegiatan yang dapat dilakukan lansia, di antaranya senam lansia, penyuluhan tentang cara memeriksa kesehatan secara mandiri, pelatihan penggunaan obat herbal secara rasional melalui pengenalan dosis, dan juga inisiasi bank TOGA.
"Kami melihat pengobatan herbal masih menjadi tren, apalagi lansia biasanya masih menyukai tanaman obat. Dengan bank TOGA ini, lansia dilatih untuk tidak hanya mengkoleksi dan menggunakan tanaman obat, tapi juga sampai ke budidaya," kata Mirna.
Lagipula, tambahnya, di kampung tersebut, ada potensi lahan kosong yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi program tersebut. Untuk bank TOGA sendiri, Mirna menerangkan, sistem yang dipakai juga simpan pinjam. "Jadi kalau mau mengembangkan tanaman tertentu, dia sistemnya meminjam, kemudian harus 'menyimpan' satu jenis tanaman lain yang sudah dimiliki agar dapat dimanfaatkan yang lain," urainya.
Baca juga: Soragan, Dusun di Bantul yang Warganya Kompak Tanam Herbal di Kebun
Satu hal yang unik dari program ini adalah lansia juga diajak bermain. Sebab menurut Mirna, kebanyakan lansia di Kampung Cokrokusuman sudah mulai diserang pikun atau demensia.
"Permainannya sederhana saja, kami membisikkan kata-kata yang panjang, nanti disampaikan ke temannya, dan di situ kami bisa tahu seberapa bagus daya ingat mereka, dan mereka dapat berlatih mengingat dengan baik," katanya.
Dalam percobaan pertama yang dilaksanakan dalam kurun lima bulan, Mirna dan rekan-rekannya menemukan adanya peningkatan keaktifan dari lansia di kampung tersebut. "Hasil menunjukkan terjadi penurunan tekanan darah rata-rata pada kelompok lansia karena mereka punya peranan baru dalam masyarakat, selain karena ruang sosial bagi mereka juga bertambah luas," simpulnya.
Kendati demikian, Mirna dan rekan-rekannya mengaku tak mudah untuk bisa merangkul masyarakat Kampung Cokrokusuman dalam program mereka. "Namanya community development, kesulitannya pasti pada bagaimana kami melakukan pendekatan, di tengah kesibukan kami sebagai mahasiswa," ujarnya.
Beruntung mereka dibantu oleh kader-kader PKK Kampung Cokrokusuman RW 08, yang nantinya akan menjamin keberlangsungan program ini. "Lewat program kami ini, kami ingin lansia sebagai sosok yang bijaksana juga mampu menjadi pribadi yang aktif, produktif dan sehat," tutupnya.
Di bawah bimbingan dr Probosuseno, SpPD-Kger(K), Mirna dan rekan-rekannya akan menjadi salah satu wakil dari Universitas Gadjah Mada dalam Pekan Ilmiah Nasional ke-28 tahun 2015, yang sedianya diselenggarakan di Universitas Halu Oleo, Kendari, Oktober mendatang. (lll/up)











































