Denis Hemon dari Institute National de la Sante et de la Recherche Medical (INSERM) di Paris mengatakan makin banyak bukti yang membuat polusi udara sebagai faktor leukima. Hal tersebut ia katakan setelah melihat data 2.760 anak yang mempunyai leukimia dan membandingkannya dengan data 30 ribu anak sehat sepanjang tahun 2002 sampai 2007.
Untuk melihat dampak polusi udara terhadap prevalensi kanker dalam penelitian Hemon membuat patokan jarak rumah tinggal, angka kejadian, dan konsentrasi polutan yang ada. Hasilnya anak yang tinggal sekitar 150 meter dari jalanan utama ternyata memang lebih banyak yang mengidap kanker karena tingkat polutannya lebih tinggi daripada anak yang tinggal 500 meter dari jalan utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara keseluruhan kami menemukan ada kaitan," kata Hemon seperti dikutip dari Reuters pada Minggu (11/10/2015).
Hal sama juga diutarakan oleh Marco Vinceti dari Universita di Modena e Reggio Emilia di Itali. Studi yang ia lakukan membandingkan polutan di udara yang terbagi atas partikulat (debu halus) dan gas termasuk benzene dengan kaitannya terhadap kanker.
"Studi kami juga menemukan asosiasi yang sama terhadap leukimia. Kami melihat partikulat serta benzene, dan hasilnya tak ada kaitan untuk partikulat (terhadap kanker -red)," kata Vincenti.
Dalam paparan jangka pendek benzene diketahui dapat menyebabkan rasa kantuk, pusing, dan sakit kepala. Menurut Environmental Protection Agency paparan jangka panjangnya bisa mengganggu jumlah darah dalam tubuh.
Baca juga: Efek Jahat Polusi Udara Bisa Dilawan dengan Vitamin C (fds/vit)











































