Psikiater asal Lebanon Ramzi Haddad menjelaskan Captagon begitu populer di Suriah karena sifat stimulannya. Obat membuat prajurit lebih kebal terhadap rasa sakit dan dapat bertempur dalam waktu lama tanpa istirahat.
"Obat memberikan Anda sensasi euforia. Anda jadi lebih banyak bicara, tidak perlu tidur, tak perlu makan, dan selalu bertenaga. Produksi obat juga cukup murah dan sederhana hanya memerlukan ilmu kimia dasar serta beberapa buah timbangan," ujar Haddad seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (27/11/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekilas efek yang diberikan mungkin terdengar luar biasa, namun perlu diingat ada alasan mengapa obat Captagon dilarang penggunaannya oleh banyak negara pada tahun 1980. Diketahui amfetamin yang terdapat dalam obat bisa menyebabkan rasa gelisah, jantung berdebar, halusinasi, dan bahkan sampai perubahan mental. Selain itu ada juga efek adiktif yang membuat pengguna ingin terus-terusan memakainya.
Media pemerintah setempat menyebut obat Captagon saat ini telah menjadi sesuatu yang biasa ditemukan selain senjata pada seorang pemberontak ketika tertangkap.
Seorang petugas pengawas narkotik di kota Homs yang ditemui oleh Reuters mengaku menyaksikan sendiri bagaimana obat berpengaruh pada pemrotes dan prajurit pemberontak.
"Kami memukul mereka, tapi tak ada efeknya. Banyak di antara mereka hanya tertawa saja. Jadi biasanya kami membiarkan saja tahanan 48 jam sampai efek Captagon habis, baru interogasi akan berjalan lancar," pungkas petugas tersebut.
Baca juga: Efek Senjata Kimia di Suriah: Banyak Bayi Cacat dan Ibu Keguguran (fds/vit)











































