Padahal jika digali lebih mendalam, apati sebenarnya bukanlah perilaku atau sikap yang diperlihatkan seseorang, tetapi bersumber dari sebuah gangguan biologis.
Awalnya peneliti mengungkap apati merupakan penanda berbagai penyakit. Bahkan dari sebuah studi yang dilakukan di Amerika pada tahun 2009 mencatat apati merupakan gejala dari 33 kondisi sekaligus.
45 persen terlihat pada pasien Parkinson, 31 persen pada penyandang multiple sclerosis, dan 29 persen ditemukan pada lansia dengan gangguan jantung. Begitu juga dengan depresi, penyakit Lyme dan kekurangan testosteron.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, apati juga bisa ditemukan pada orang sehat, meski kadarnya kecil.
"Tetapi anehnya meski mereka duduk seharian dan nyaris tidak melakukan apa-apa, mereka masih bisa gembira, tidak seperti penyandang depresi," terang peneliti yang juga ahli saraf dari Oxford, Prof Masud Husain seperti dikutip dari Livescience, Jumat (4/12/2015).
Lalu Husain penasaran apa yang menjadi pemicu di balik apati ini. Ia lantas meminta 40 partisipan sehat untuk menjalani psikotes sembari menjalani MRI scan.
Ketika seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu, salah satu bagian otak mereka yang bernama 'pre-motor cortex' menjadi aktif. Sebab tugas bagian ini memang mengendalikan pergerakan tubuh manusia, termasuk mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu.
"Tapi pada orang-orang apati, koneksi otaknya tidak begitu efektif, terutama di bagian ini, sehingga otaknya harus bekerja ekstra untuk bisa mendorong seseorang mengubah keputusannya menjadi aksi," jelas Husain.
Husain menambahkan, apati ekstrem dapat diobati dengan obat semacam dopamine atau yang bisa membuat seseorang merasa bahagia.
"Dugaan lain, orang apati juga mengalami gangguan pada bagian otak yang bertugas memberikan reward, sehingga produksi dopamine-nya ikut terhambat," terangnya.
Baca juga: Kurang Gerak Jadi Salah Satu Faktor Terjadinya Pembekuan Darah (lll/up)











































