Para peneliti di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan terobosan untuk memahami gangguan yang dapat membawa jalan keluar bagi orang tua dan dokter untuk memulai pengobatan lebih dini.
Dikutip dari Daily Mail, Selasa (22/12/2015), peneliti melihat adanya keterkaitan antara kandungan kimia pada otak yang disebut GABA dengan perilaku autistik pada anak. Orang dengan autisme cenderung mempunyai kadar GABA yang lebih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
GABA biasanya digunakan untuk menenangkan dan merangsang otak manusia. Rendahnya tingkat GABA pada pasien dengan autisme membuat otak mereka terlalu bersemangat. Hal ini pula yang menjelaskan mengapa seperempat dari pasien autisme mengalami serangan epilepsi.
Tes visual digunakan untuk melihat tingkat GABA dalam otak pasien. Untuk menemukan bukti dari penelitian ini, dr Caroline Robertson dari Harvard University dan rekan-rekannya menggunakan tes visual yang dikenal sebagai tes persaingan teropong. Pada tes tersebut, pasien diberikan gambar yang berbeda untuk masing-masing mata mereka.
"Ketika diberikan gambar yang berbeda untuk setiap mata, orang-orang normal akan berulang kali bolak-balik untuk melihat dua gambar tersebut setiap tiga detik, sedangkan pasien dengan autisme membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk melihat gambar tersebut," jelas dr Robertson.
Tes ini diakui merupakan terobosan baru yang baik dan mudah untuk mendiagnosis autisme dini pada anak.
Baca juga: Ilmuwan Kembangkan Deteksi Dini Autisme dengan Senter Kecil (rdn/vit)










































