Dr dr Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD-KGEH, dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menemukan bahwa asap bisa memengaruhi sistem pencernaan seseorang. Eksperimen yang ia lakukan pada tikus menunjukkan polusi membuat nafsu makan tikus berkurang dan asam lambung meningkat sehingga pada akhirnya berujung pada penurunan bobot.
Namun sementara itu studi yang dilakukan oleh peneliti Ohio State University justru melihat efek yang sebaliknya. Saat tikus laboratorium dipaparkan udara yang kotor selama 10 minggu, sel-sel lemak mereka membesar 20 persen dari normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para tikus menjadi resistan terhadap insulin atau hormon yang bisa mengubah gula darah menjadi energi.Artinya mereka terancam diabetes dan bisa dengan mudah mengalami obesitas.
Bagaimana mekanismenya belum diketahui pasti dan masih diperdebatkan. Peneliti percaya ini terjadi karena partikel polusi udara halus memicu respons stres paru-paru yang kemudian membuat sistem saraf bekerja keras. Hormon-hormon dilepas termasuk hormon yang mengganggu kerja insulin.
Dikutip dari BBC, Michael Jerrett dari University of California berkomentar bahwa partikel polusi halus bisa juga melepas molekul inflamasi di tubuh bernama sitokin. Molekul ini berefek juga mengganggu insulin dan bisa mengganggu proses hormon dan otak yang memproses dan mengatur nafsu makan.
Baca juga: Polusi Udara Indonesia Menempati Peringkat 8 Paling Mematikan Sedunia
(fds/vit)










































