Sebelumnya, Kian juga diprediksi akan mengalami kebutaan, tuli, masalah kesehatan mental, sulit berjalan, dan tidak bisa berolahraga. Tapi nyatanya, Kian berhasil membuktikan bahwa ia bisa bertahan sampai saat ini usianya menginjak 5 tahun. Pada Jumat (29/1) lalu, Kian pun menjalani hari pertamanya sebagai murid di salah satu sekolah dasar di Victoria.
Ibu Kian, Tamara Richardson mengisahkan saat usia kandungannya 21 minggu, tiba-tiba ia mengalami pecah ketuban. Dokter lantas meminta Tamara menjalani rawat inap untuk mempertahankan kehamilannya setidaknya sampai berusia 24 minggu. Saat dirujuk ke Monash Hospital, Tamara mengeluh sakit punggung parah dan ia merasa ingin ke toilet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Studi: Wanita Bertubuh Pendek Lebih Berisiko Melahirkan Bayi Prematur
Kian langsung ditempatkan di mesin oksigen karena paru-parunya tidak berkembang dengan baik. Selama 11 bulan pun ia harus diintubasi. Saat usianya menginjak dua bulan, tim medis memberi tahu Tamara dan suaminya, Evan Richardson bahwa kondisi Kian memburuk.
![]() |
Tamara, Evan, dan anggota keluarga yang lain lantas pergi ke rumah sakit dan menurut Tamara, kala itu seakan-akan menjadi saat terakhir baginya bisa melihat Kian. Seluruh anggota keluarga pun menyempatkan diri untuk melihat Kian.
"Itulah pertama kalinya saya dan Evan bisa memegang tangan Kian. Dia sangat mungil dan terlihat amat sakit serta lemah," ujar Tamara.
Keesokan harinya, Tamara seperti merasakan keajaiban saat dokter memberi tahu kondisi Kian membaik dan dia menunjukkan kemajuan yang berarti. Tamara yakin, hal ini tak lepas dari pelukan dan doa yang diberikan oleh seluruh anggota keluarga.
"Seperti mimpi saat mendengar kabar itu. Hingga Kian bisa bertahan sampai saat ini, di usia lima tahun dia sudah mulai masuk sekolah dasar. Itu merupakan keajaiban bagi saya," pungkas Tamara.
Baca juga: Terapi Surfaktan untuk Bayi Prematur dengan Gangguan Pernapasan
(rdn/vit)












































