Untuk itu, pakar menyarankan agar para dokter di klinik keluarga lebih sering mengecek gejala depresi pada remaja. Dr Gary Maslow, asisten profesor dari Duke University mengatakan seringkali depresi pada remaja tersamarkan oleh perilaku aktif.
"Pada remaja, mereka bisa menyembunyikan depresi dengan baik. Namun jika ini didiamkan, maka gejalanya akan semakin parah dan meningkatkan risiko lainyya," tutur Dr Maslow, dikutip dari CNN, Jumat (12/2/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei menyebut kurang lebih 8 persen remaja mengalami depresi tiap tahunnya. Angka ini tidak jauh berbeda dengan persentasi depresi pada orang dewasa, yang berada di angka 9-11 persen per tahun.
Dr Alex Krist dari Virginia Commonwealth University menyebut metode skrining deprei pada remaja yak berbeda dengan orang dewasa. Skrining masih dilakukan dengan metode tes, survei dan wawancara.
"Hanya saja belum ada penelitian yang menghasilkan data metode mana yang lebih baik digunakan untuk remaja," tuturnya.
Sebelumnya, Dr David A Brent dari University of Pittsburgh Medical Center melakukan penelitian tentang terapi yang tepat bagi pasien depresi anak dan remaja. Ditemukan bahwa terapi perilaku (cognitive behavioral therapy) paling baik untuk remaja yang sedang depresi.
"Penelitian mengungkap bahwa anak yang mendapat terapi perilaku memiliki risiko 36 persen lebih kecil terserang depresi. Mereka bisa melakukan fungsi sosialnya dengan normal dan sekolah atau bekerja karena sedikitnya hari-hari depresi yang mereka rasakan.
"Intervensi ini ternyata lebih efektif diberikan pada anak. Terapi perilaku membuat mereka bisa mencegah ketika gejala-gejala episode depresi muncul dan akibatnya, mereka bisa memiliki interaksi sosial yang lebih baik," tutur Dr Brent.
Baca juga: WHO: 39 Persen Kasus Bunuh Diri di Dunia Terjadi di Wilayah Asia Tenggara
(mrs/vit)











































