Dari situ rasa ingin tahu Cohen muncul. Berdua dengan Leibovich, mereka akhirnya melakukan studi untuk melihat apakah rasa takut benar dapat memengaruhi persepsi seseorang.
Eksperimen berawal dengan menyurvei 80 orang acak untuk mengetahui tingkat fobia laba-laba yang dimiliki. Peneliti lalu mengambil 20 persen individu yang tingkat fobianya paling tinggi dan 20 persen yang fobianya paling rendah untuk dijadikan perbandingan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jurnal Biological Psychology para partisipan dilaporkan kemudian duduk di depan komputer dan diminta untuk menilai sekumpulan gambar burung, kupu-kupu, dan laba-laba. Setelah melihat tiap gambar partisipan diminta untuk menebak ukuran hewan tersebut dengan skala mulai dari yang paling kecil sekecil lalat atau sebesar domba.
Kelompok yang punya fobia rata-rata lebih banyak salah menilai ukuran laba-laba dan menganggapnya lebih besar dari yang seharusnya.
"Meski individu dengan arachnophobia (fobia laba-laba -red) yang rendah dan tinggi sama-sama menilai laba-laba tak sedap dipandang, namun hanya partisipan dengan fobia tinggi yang berlebihan menilai ukuran laba-laba," kata Leibovich seperti dikutip dari Foxnews, Senin (22/2/2016).
Lebih jauh peneliti melakukan eksperimen lagi pada kelompok lainnya dengan hewan lain untuk melihat apakah efek yang sama juga terjadi. Eksperimen kedua melibatkan 64 orang dengan foto tambahan tawon dan kumbang.
Hasilnya orang-orang yang punya fobia laba-laba menilai bahwa tawon juga mengerikan namun mereka rata-rata tak salah menilai ukurannya. Peneliti pada akhirnya berkesimpulan bahwa rasa takut kemungkinan dapat memengaruhi persepsi seseorang.
"Studi ini menimbulkan pertanyaan lainnya seperti: Apakah benar bahwa rasa takut membuat orang salah menilai ukuran, atau mungkin ada persepsi salah ukuran dulu baru kemudian menimbulkan rasa takut," tutup Leibovich.
Baca juga: Pakai Obat Darah Tinggi, Ilmuwan Bisa Tekan Reaksi Fobia (fds/vit)











































