Program Medical Tourism Bisa Bantu Kurangi Kerugian Devisa Negara

Program Medical Tourism Bisa Bantu Kurangi Kerugian Devisa Negara

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Selasa, 29 Mar 2016 19:36 WIB
Program Medical Tourism Bisa Bantu Kurangi Kerugian Devisa Negara
Foto: Thinkstock
Jakarta - Indonesia merupakan pasar utama medical tourism negara-negara tetangga. Pakar mengatakan sekarang sudah waktunya untuk berubah dari pasar menjadi pelaku.

dr Budi Wiweko, SpOG(K), founder SMART IVF mengatakan banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri bisa merugikan negara. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dimilikinya, kerugian negara mencapai Rp 110 triliun.

"Karena itu untuk mengurangi kerugian devisa negara, sudah saatnya Indonesia memiliki program medical tourism. Medical tourism dapat menjaga ketahanan sekaligus mencirikan kemandirian bangsa," tutur pria yang akrab disapa dr Iko tersebut, dalam seminar media Layanan Medical Tourism Sahid Sahirman Fertility Center, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (29/3/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

dr Iko mengatakan ada dua tujuan yang ingin diraih dengan memiliki program medical tourism di Indonesia. Yang pertama, tentu saja meningkatkan devisa negara dengan mendatangkan turis yang ingin berobat.

Baca juga: Dokter Ini Sebut Pasien Indonesia Rugi Jika Berobat ke Luar Negeri

Berdasarkan data yang dimiliki dr Iko, Singapura menghasilkan kurang lebih USD 632,2 juta (Rp 8,5 triliun) melalui medical tourism. Sementara Malaysia menghasilkan USD 193 juta (Rp 2,5 triliun) per tahun. Kedua negara ini sangat jauh melampaui Indonesia yang hanya USD 815 (Rp 10 juta) per tahun.

"Australia menjadi negara paling banyak menghabiskan biaya untuk medical tourism ke Indonesia. Tapi itu juga mungkin karena mereka selancar di Bali lalu cedera akhirnya berobat ke rumah sakit," ujar dr Iko sembari berseloroh.

Sementara tujuan kedua adalah mencegah masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri. Indonesia merupakan pangsa pasar tertinggi bagi rumah sakit-rumah sakit di Singapura dan Malaysia. Padahal modal yang dimiliki tidak berbeda.

Soal pelayanan dan kualitas dokter, Indonesia tidak kalah dari Singapura dan Malaysia. Apalagi soal destinasi pariwisata yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Masalah utama di Indonesia menurut dr Iko adalah ketidakmerataan layanan.

"Untuk bayi tabung saja, klinik kesuburannya hanya ada di Pulau Jawa dan Sumatera, itu pun cuma di 11 kota. Cakupan pelayanannya hanya 20 pasien per 1 juta penduduk. Jauh dari ideal yang harusnya 600 per 1 juta penduduk," tambahnya lagi.

Baca juga: Tiap Tahun Ratusan Orang Indonesia ke Malaysia untuk Wisata Sambil Berobat

Meski begitu, dr Iko mengaku optimistis. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, modal Indonesia yang sudah cukup menurutnya bisa membuat Indonesia bersaing dengan Singapura, Malaysia, bahkan Thailand.

"Tahun ini kita sudah mulai kan ya lewat Fertility Center di Sahid Sahirman Memorial Hospital. Dalam waktu 3 tahun saya rasa bisa bersaing. Tentu saja harus dibarengi dengan edukasi, pemberian informasi serta perubahan mindset masyarakat sebagai pasien," pungkasnya.

(mrs/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads