Jumat, 15 Apr 2016 09:34 WIB

Derajat Keparahan Endometriosis Pengaruhi Cara Pasutri 'Mendapat' Momongan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Wanita masih berpeluang hamil meski didiagnosis endometriosis. Meski memang, keberhasilan si wanita hamil bergantung pada derajat endometriosis yang dialami.

Dijelaskan dr Malvin Emeraldi SpOG, K-Fer dari RSUP Fatmawati, penatalaksanaan endometriosis intinya adalah bagaimana supaya si wanita tidak haid karena ketika haid dia akan merasakan nyeri luar biasa. Namun, ketika si wanita dan pasangannya ingin punya anak maka sebisa mungkin diusahakan untuk cepat hamil.

"Pada pasien dengan endometriosis derajat ringan. bisa dilakukan pengobatan mulai dari terapi hormonal sampai operasi. Pada derajat ringan, kehamilan bisa saja didapat melalui hubungan seks biasa atau inseminasi," kata dr Malvin, ditemui usai seminar awam 'Waspada Endometriosis' di RSUP Fatmawati, Jakarta, Kamis (14/4/2016).

Biasanya, pasien dan si pasangan akan diberi tenggat waktu misalnya 3-6 bulan. Jika lewat waktu itu, dianjurkan menggunakan prosedur bayi tabung karena khawatir waktunya terlalu lama seiring dengan perkembangan endometriosis. Sementara pada pasien endometriosis derajat sedang, tenggat waktu yang diberikan cenderung lebih pendek misalnya dari satu tahun menjadi tiga bulan.

"Nah, prosedur bayi tabung lebih dianjurkan pada wanita dengan endometriosis berat karena kalau dia mau menggunakan hubungan seks biasa atau inseminasi, butuh waktu lebih lama sehingga kemungkinan perkembangan endometriosis pun bisa makin parah." tambah dr Malvin.

Baca juga: Ingat! Infertilitas Tak Hanya Dihadapi Pasutri yang Belum Punya Anak Saja

Pada prosedur bayi tabung tingkat keberhasilannya bisa mencapai 20 sampai 30 persen, tergantung usia wanita, cadangan telur dan riwayat operasi. Ketika wanita dengan endometriosis bisa hamil, selebihnya perlu dilakukan upaya untuk menjaga kehamilannya. Bagaimana caranya?

"Biasa aja. Paling ya seperti rutin kontrol kehamilan biasa," ujar dr Malvin.

Sementara, wanita dengan endometriosis yang hamil menurut dr Malvin memiliki risiko yang sama seperti orang hamil pada umumnya. Jika berbicara risiko keguguran, maka kaitannya dengan kualitas sel telur yang mungkin kurang baik. Untuk risiko lahir prematur, maka terkait denganĀ  kualitas embrio.

"Pada pasien endometriosis berat, rahim kan udah berubah posisi dan anatominya, bisa aja. Tapi pengalaman saya kalau ada endometriosis, yang penting hamil dulu deh. Nanti malah nggak ada program hamilnya, kelamaan malah lebih kecil peluangnya. Apalagi kan wanita kalau usia di atas 35 tahun cadangan sel telur udah menurun, kena endometriosis makin turun, ditambah operasi, makin turun lagi," papar dr Malvin.

Ia menambahkan, ketika wanita hamil, maka si wanita tidak haid dan tidak terjadi perkembangan endometriosis. Sehingga, bisa dikatakan kehamilan 'menyembuhkan' endometriosis sementara waktu saja.

Baca juga: Riset Ini Sebut Anak Hasil Bayi Tabung Dihantui Risiko Kanker (rdn/vit)