Sayangnya, pemahaman tentang penyakit mana yang membutuhkan antibiotik dan mana yang tidak masih rendah, terutama pada pasien fasilitas kesehatan tingkat pertama. Untuk itu, dokter harus mampu menjelaskan lebih baik tentang resistensi antibiotik dan konsekuensinya.
"Semakin banyak antibiotik yang masuk ke tubuh, semakin kebal pula bakteri terhadap obat-obat tersebut. Jadi jika nanti Anda berobat pneumonia atau infeksi ginjal, obat yang biasa tidak akan lagi mempan," tutur Cliodna McNulty, kepala Primary Care Unit di Public Health England, Inggris, dikutip dari Reuters, Jumat (13/5/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian dilakukan dengan survei langsung kepada 1.624 partisipan. Pertanyaan yang diajukan antara lain frekuensi penggunaan antibiotik, informasi yang diberikan oleh dokter ketika meresepkan antibiotik dan pengetahuan masyarakat tentang resistensi antibiotik.
Hasil penelitian menyebut satu pertiga partisipan diberikan resep antibiotik dalam satu tahun terakhir. Resep antibiotik diberikan kepada 62 persen pasien infeksi tenggorok, 60 persen pasien infeksi sinus dan 42 persen pasien batuk dan demam. Padahal, seluruh kondisi ini disebabkan oleh virus.
Di sisi lain, 86 persen partisipan mengaku paham dan mengerti bahwa infeksi tenggorok, sinus atau batuk dan demam bisa hilang tanpa menggunakan antibiotik. Namun hanya 44 persen yang paham bahwa penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh virus dan bukan oleh bakteri.
Untuk panduan dari dokter, kurang lebih dua pertiga partisipan mengaku mendapat saran dari dokter tentang infeksi dan penggunaan antibiotik. Meski begitu, hanya 8 persen yang mendapat informasi tentang resistensi antibiotik.
Hasil lainnya menyebut 88 persen pasien percaya pada dokter soal resep obat dan tidak bertanya lebih jauh. Selain itu, 45 persen partisipan tahu bahwa bakteri kebal obat bisa hidup di orang yang sehat.
Mengomentari penelitian ini Dr Lauri Hicks, Direktur Office of Antibiotic Stewardship, Centers for Disease Control and Prevention (CDC Amerika Serikat), mengatakan dokter seharusnya memberikan informasi soal resistensi antibiotik ketika meresepkan obat kepada pasien. Dengan begitu, pasien bisa lebih memahami risiko yang mereka hadapi.
"Dari sisi pasien, perbanyak informasi soal resistensi antibiotik dari situs internet yang terpercaya. Antibiotik memang dibutuhkan untuk menangani infeksi serius, tapi bukan untuk penyakit demam, sakit tenggorokan atau gejala-gejala flu lainnya," ungkap Dr Lauri.
Baca juga: Resistensi Antibiotik Juga Bisa Terjadi di Sektor Peternakan (mrs/vit)











































