Senin, 16 Mei 2016 19:03 WIB

Hipertensi Dianggap Normal, Masyarakat Cenderung Menyepelekan

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi yang erat kaitannya dengan penyakit katastropik seperti penyakit kardiovaskuler, stroke, gagal ginjal, diabetes, dan gangguan penglihatan. Namun meski konsekuensinya serius masih banyak orang melihat hipertensi sebagai sesuatu yang sepele.

Petugas Teknis Penyakit Tidak Menular World Health Organization (WHO) dr Sharad Adhikary mengatakan ada dua alasan yang mungkin menyebabkan mengapa orang jarang menganggap serius hipertensi.

Alasan pertama adalah karena pandangan di masyarakat yang menganggap bahwa obat bisa mengatasi semua masalah. "Orang-orang punya kesalahpahaman menganggap 'kalau saya minum obat penyakit akan terkendali'. Ya ini memang benar kalau kita hipertensi lalu minum obat teratur kita bisa hidup normal, tapi masalahnya saat itu tanda komplikasi serius umumnya sudah muncul," kata dr Sharad kepada detikHealth pada Senin (16/5/2016).

Baca juga17 Mei Hari Hipertensi Sedunia , Sudahkah Cek Tekanan Darah Anda?

"Orang-orang tak memahami konsekuensi ini. Mereka hanya mengerti bahwa hipertensi hanya masalah tekanan darah dan bisa dikontrol dengan obat jadi dianggap enteng," lanjut dr Sharad.

Alasan kedua adalah karena faktor terbiasa mendengarnya. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013 prevalensi nasional untuk hipertensi sekitar 25,8%. Karena banyak pengidapnya dan tak langsung menunjukkan masalah, maka hipertensi pun dianggap sebagai sesuatu yang normal.

"Mereka berpikir 'ah ini bukan masalah saya saja, ada banyak orang yang memilikinya dan mungkin juga karena saya sudah tua'. Jadi ini dianggap sebagai sesuatu yang normal. Kita harus mengubah cara berpikir seperti ini," kata dr Sharad.

Terkait hal tersebut Kementerian Kesehatan RI berencana menjadikan momen Hari Hipertensi Sedunia yang jatuh pada 17 Mei 2016 untuk semakin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hipertensi. Selama sebulan penuh tempat untuk melakukan pengecekan tekanan darah dan edukasi hipertensi diperbanyak.

Baca juga: Kemenkes: Provinsi yang Prevalensi Hipertensinya Rendah Hanya Papua

(fds/up)