Senin, 19 Des 2016 09:01 WIB

Kaleidoskop 2016

Januari: Meksiko Negara Pertama dengan Vaksin DBD, Indonesia Mulai Mengkaji

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Sebagai salah satu negara dengan angka kasus demam berdarah yang selalu tinggi di musim penghujan, Indonesia butuh menyiapkan metode penanganan yang cepat dan akurat, seperti halnya vaksin.

Wacana ini muncul setelah Meksiko dilaporkan menjadi negara pertama di dunia yang telah menggunakan vaksin DBD, yaitu tepatnya pada bulan Desember 2015 lalu.

Pada Januari silam, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), dr Mohamad Subuh, MPPM, mengatakan vaksin DBD di Indonesia masih dalam tahap pengkajian, kaitannya dengan banyaknya jenis virus demam berdarah yang ada di Indonesia.

"Jenis dari virus (DBD -red) di kita itu ada empat: DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Sementara di Meksiko baru memakai untuk DEN-1, DEN-2, dan DEN-3 saja. Kita maunya komprehensif bahwa vaksin yang kita pakai ini bisa untuk orang Indonesia mengcover DEN-1, DEN-2, sampai DEN-4," papar Subuh saat itu.

Subuh menambahkan, vaksin DBD untuk Indonesia telah memasuki masa uji klinis. Target Kemenkes, vaksin ini telah melalui tahapan uji klinik dalam kurun 1-2 tahun mendatang.

Dan ketika sudah ada, vaksin ini akan direncanakan masuk ke dalam program wajib vaksin untuk anak-anak.

Oktober lalu, Dengvaxia, nama dagang dari vaksin CYD Tetravalent Dengue Vaccine (CYD-TDV) buatan Sanofi Pasteur yang dipergunakan Meksiko akhirnya bisa masuk ke Indonesia. Namun vaksin ini tetap menuai kritik dari masyarakat, karena belum tersedia secara bebas.

Selain itu, penggunaannya hanya terbatas pada pasien usia 9-45 tahun, yang berarti justru tidak menjangkau anak-anak dan lansia yang paling rentan mengalami kematian akibat DBD.

Di sisi lain, Kemenkes mengklaim di akhir tahun 2015, jumlah kasus dan angka kematian akibat DBD di Indonesia menurun drastis.

Laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat di tahun 2015 pada bulan Oktober ada 3.219 kasus DBD dengan kematian mencapai 32 jiwa, sementara November ada 2.921 kasus dengan 37 angka kematian, dan Desember 1.104 kasus dengan 31 kematian. Dibandingkan dengan tahun 2014 pada Oktober tercatat 8.149 kasus dengan 81 kematian, November 7.877 kasus dengan 66 kematian, dan Desember 7.856 kasus dengan 50 kematian.

Baca juga: Kemenkes: Kasus dan Kematian DBD Indonesia Akhir Tahun 2015 Turun Drastis

Sementara itu, resistensi antibiotik juga perlahan mulai mengusik pengobatan untuk penyakit dengan vektor atau yang dibawa oleh nyamuk, dalam hal ini malaria. Januari lalu, jurnal The Lancet Infectious Disease melaporkan diketemukannya parasit malaria kebal obat di sejumlah negara di Asia Tenggara.

Parasit ini dilaporkan kebal terhadap dua pengobatan utama untuk malaria, piperaquine dan artemisinin. Resistensi artemisinin ditemukan di 5 negara yakni Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand dan Vietnam, sementara resistensi artemisinin plus obat lainnya hanya muncul Kamboja dan Thailand.

Kondisi ini patut menjadi perhatian karena kedekatan geografis antara negara-negara tersebut dengan Indonesia.

Baca juga: Riset In Vitro Buktikan Kandungan Kunyit Ampuh Menangkal Infeksi DBD


(lll/vit)
dbd