Salah satu rumah sakit di Aceh yang mendapat pasien difteri adalah RS Dr Zainal Abidin (RSZA). Pada Selasa (21/2/2017) tercatat ada 17 pasien pasien difteri yang telah dirawat sejak Januari-Februari. Beberapa di antaranya dirawat di ruang isolasi.
"Sekarang masih ada lima pasien yang kita rawat di ruang isolasi," kata Wakil Direktur Pelayanan RSUZA, Azharuddin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
RSUZA sendiri saat ini punya ruangan isolasi dengan jumlah enam tempat tidur. Saat ini, kondisi perawatan pasien di RSUZA keluar masuk, sehingga ketika ada yang masuk ada juga yang keluar karena sudah membaik.
Baca juga: Difteri Makan Korban, Menkes Malaysia Khawatirkan Sikap Penolakan Vaksin
Bila sudah terlambat ditangani, difteri dapat berakhir fatal. Sejauh ini dari 17 pasien yang dirawat di RSUZA, dua di antaranya meninggal dunia. Kefatalan ini terjadi akibat tertutupnya jalur pernapasan atau bisa juga karena peradangan pada otot jantung.
Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Dijelaskan Azhar, biasanya pasien difteri susah menelan sesuatu dan sulit bernafas. Jika sudah termasuk kategori berat, muncul selaput di bagian mulut dan leher kadang bengkak.
"Begitu ganasnya bakteri difteri ini," terang Azhar.
Selain itu, gejala difteri biasanya muncul disertai demam, sakit kepala dan batuk. Pasien yang dicurigai terserang difteri diminta untuk segera memeriksa ke dokter.
Untuk mencegah seseorang terkena penyakit ini, sudah ada vaksinasi DPT. Inilah yang menyebabkan kejadian penyakit difteri sempat berkurang. Hanya saja para ahli kesehatan kini melihat tren penyakit ini kembali seiring dengan meningkatnya sikap penolakan vaksin.
Baca juga: Penjelasan Dokter Soal Anak Sehat Meski Tak Divaksinasi
(vit/vit)











































