Perlu dipahami bahwa kesepakatan perubahan iklim yang disebut sebagai Kesepakatan Paris ini diperlukan untuk mengubah dampak perubahan iklim yang perlahan terjadi di seluruh penjuru dunia. Salah satunya di bidang kesehatan.
Seperti apa dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia? Berikut paparannya seperti dikutip dari ABC News, Rabu (7/6/2017).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Penyakit kardiovaskular
Badan Kesehatan Dunia telah melaporkan bahwa paparan polutan dari udara meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular seperti stroke dan kanker paru. Bahkan diperkirakan 3 juta orang meninggal pertahunnya karena paparan ini.
Partikel dalam polusi udara memang sangat kecil, tetapi justru dengan begitu mereka mudah masuk ke tubuh dan mengiritasi organ-organ vital, termasuk pembuluh darah. Selain itu, polusi udara diyakini dapat memberikan efek peradangan pada jantung sehingga meningkatkan peluang gangguan pada sistem kardiovaskularnya.
Pada beberapa kasus, orang yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung bisa saja mengalami serangan sewaktu-waktu hanya karena dipicu oleh paparan polusi udara tingkat tinggi.
2. Asma
Polutan di udara akan memicu atau memperburuk serangan asma pada mereka yang memang memilikinya. Polutan ini juga diyakini dapat menyebabkan peradangan dan mengganggu sistem pernapasan, di samping iritasi lainnya. Utamanya pada bayi dan anak-anak.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di tahun 2014, anak pengidap asma dipastikan sangat rentan pada polusi udara karena paru-paru mereka yang memang masih berkembang. Di sisi lain, mereka lebih banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.
Baca juga: Bukti Baru, Partikel Halus Polusi Ternyata Bisa Sampai Otak
Foto: Thinkstock |
3. Penyakit yang ditularkan serangga
Perubahan iklim juga memicu perubahan pola penyebaran penyakit yang ditularkan serangga. Ambil contoh nyamuk Ades albopictius yang dapat menyebarkan demam berdarah, chikungunya, dan Zika.
Menurut pakar, nyamuk yang sebelumnya hanya menyebar di kawasan tropis ini mulai banyak ditemukan juga di AS atau kawasan utara yang lebih dingin.
Iklim yang makin menghangat juga memicu persebaran kutu yang lebih luas di AS. Centers for Disease Control telah memperkirakan adanya peningkatan penyakit yang dipicu kutu seperti Lyme di wilayah lain di AS di mana sebelumnya jarang ditemukan penyakit ini.
4. Heatstroke
Peningkatan suhu udara di seluruh dunia bisa berarti serangan panas yang lebih lama. Kondisi ini dapat memicu penyakit seperti hipertermia, sebab ketika cuaca semakin panas dan lembab dikhawatirkan berkeringat saja tidak cukup menurunkan suhu internal tubuh.
Bahkan dari risetnya, US Global Change Research Program menyebut perubahan iklim bisa berarti peningkatan kasus kematian akibat cuaca di musim panas.
Baca juga: Ini Penjelasannya Ada Orang yang Kena Gangguan Napas Meski Tak Pernah Merokok (lll/up)












































Foto: Thinkstock