Penelitian yang dilakukan University of Edinburgh, Oxford dan University College London selama puluhan tahun menyebutkan tentang hal ini. Studi ini sendiri melibatkan 65.000 partisipan yang diamati sejak lahir hingga menginjak usia 79 tahun.
Tes IQ dilakukan pada saat partisipan menginjak usia 11 tahun, dan setelah tercatat, peneliti melakukan pengamatan terhadap kondisi kesehatan partisipan hingga 68 tahun ke depan, atau berhenti di bulan Desember 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu pula dengan risiko jatuh, penyakit pada saluran cerna dan demensia.
Baca juga: Anak Jadi Lebih Pintar Bila Stimulasinya Dimulai Sedini Mungkin
Secara umum, peneliti mencatat untuk tiap IQ ekstra sebanyak 15 poin dikaitkan dengan penurunan risiko akibat penyakit pernapasan sebanyak 28 persen; penyakit jantung koroner sebanyak 25 persen dan stroke sebesar 24 persen.
Ini berarti mereka yang memiliki IQ sebanyak 115 poin berpeluang 28 persen lebih besar untuk terhindar dari risiko kematian akibat penyakit pernapasan di usia 76 tahun dibandingkan mereka yang ber-IQ 100 (IQ rata-rata dalam populasi).
Tambahan IQ sebanyak 15 poin juga berarti penurunan risiko kematian akibat kanker kandung kemih (19 persen); kanker paru-paru (25 persen) dan kanker usus (11 persen).
Namun peneliti tidak dapat menjelaskan dengan pasti bagaimana tingkat kecerdasan seseorang berkaitan dengan peluang panjang umurnya.
Peneliti menduga, mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata cenderung lebih bisa mengurus dirinya sendiri, terutama kesehatannya. Semisal mereka enggan merokok, lebih rajin berolahraga atau lebih memilih gaya hidup sehat.
"Ini berarti jika kita bisa mengetahui kebiasaan sehat seseorang yang pintar dan menirunya, ada kemungkinan kita juga punya peluang untuk hidup sehat dan panjang umur," kata peneliti Prof Ian Deary seperti dilaporkan The Telegraph.
Baca juga: Ketika Orang Tua Merasa Balitanya Tak Sepintar Anak Lain
(lll/up)










































