5 Mitos Terkait Kanker yang Banyak Dipercayai

5 Mitos Terkait Kanker yang Banyak Dipercayai

Firdaus Anwar - detikHealth
Selasa, 27 Feb 2018 09:05 WIB
5 Mitos Terkait Kanker yang Banyak Dipercayai
Ada banyak mitos soal penyakit kanker yang beredar di tengah masyarakat. Foto: thinkstock
Jakarta - Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) kanker adalah penyebab kematian terbesar kedua di dunia bertanggung jawab terhadap 8,8 juta pasien meninggal pada tahun 2015. Dengan tingkat mortalitas yang cukup tinggi tidak mengherankan kalau penyakit ini ditakuti orang-orang.

Namun disayangkan banyak juga informasi keliru yang beredar terkait kanker. Hal ini disebut para ahli sebagai tantangan karena dapat membuat para pasien jadi terkecoh tidak mendapatkan terapi medis yang dibutuhkan.

Dikutip dari SciShow, berikut beberapa contoh mitos kanker yang masih banyak dipercayai:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Separuh Pencarian Penyakit di Google Mengarah ke Kanker

Foto: iStock
Berawal dari sebuah riset yang melihat bahwa hiu bisa tidak terkena kanker ketika terpapar karsinogen (zat pemicu kanker), muncul pemahaman bahwa hewan ini kebal terhadap penyakit. Produsen pun memasarkan produk dari tulang rawan hiu dengan klaim khasiatnya dapat mengobati kanker.

"Nyatanya hiu itu bisa kena kanker. Sejak riset pertama itu keluar sudah banyak ahli lain yang melihat bahwa hiu di alam bebas dengan tumor," kata pembawa acara SciShow, Hank Green.

Foto: Ilustrasi/Istimewa
Ada pemahaman bahwa pasien kanker sebaiknya menghindari gula karena gula adalah makanan untuk kanker. "Prinsipnya mungkin masuk akal dan sudah ada satu atau dua studi yang mengetes hal ini. Namun bila kita sama sekali tidak makan gula bukan berarti sel kanker akan kurang (makanan) glukosa," ujar Hank.

"Tubuh kita tidak bisa membedakan glukosa mana yang datang dari gula mana yang dari sumber lain seperti protein. Jadi apapun yang kamu makan akan berubah jadi glukosa. Membatasi konsumsi gula tidak akan terlalu memengaruhi tumor," lanjutnya.

Foto: thinkstock
Antioksidan memang terbukti punya efek perlindungan terhadap radikal bebas yang dalam jangka panjang dapat merusak DNA. "Jadi kamu mungkin berpikir makan banyak antioksidan akan mencegah kanker. Tapi meski kedengarannya masuk akal bukan berarti hal tersebut benar," kata Hank.

Studi membuktikan bahwa konsumsi suplemen kaya antioksidan tidak terlalu berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang terkena kanker. Malah bagi pasien kanker sebaiknya berhati-hati mengonsumsi suplemen.

"Bila kamu sudah memiliki kanker minum suplemen antioksidan justru melihat bisa mempercepat perkembangan kanker. Sebagai contoh satu studi yang dilakukan para peneliti di Swedia melihat melanoma bisa jadi lebih agresif pada tikus yang menerima suplemen antioksidan," pungkas Hank.

Kemungkinan ini karena antioksidan tidak bisa membedakan mana sel sehat dan mana sel kanker. Artinya antioksidan malah akan melindungi sel kanker sehingga bisa berkembang bebas.

Foto: Thinkstock
Biopsi adalah prosedur medis di mana sampel tumor diambil untuk diteliti di laboratorium. Nah bagi beberapa orang ada anggapan bahwa biopsi ini malah akan membuat tumor lebih mudah lepas dan menyebar di seluruh tubuh.

Hank mengatakan bahwa memang prosedur biopsi dapat mengguncang dan melepaskan beberapa sel tumor dari tempat asalnya, tapi sel tumor ini berbeda dari sel yang memang lepas sendiri.

"Meski sel-sel tumor ini jadi lepas, setelah beberapa saat akan mati sendiri. Ketika biopsi melepaskan sel tumor, sel ini biasanya tidak didesain untuk menyebar ke tempat lain," kata Hank.

Foto: Thinkstock
Kalau jaman dulu penyakit kanker tidak pernah atau jarang terdengar bukan berarti tidak ada. Kanker adalah penyakit yang buktinya sudah terekam bahkan pada tulang manusia berumur 1,7 juta tahun lalu bahkan tulang dinosaurus.

Jadi anggapan bahwa kanker adalah penyakit modern kemungkinan hanya karena prevalensinya meningkat akibat gaya hidup saat ini yang lebih tidak sehat.
Halaman 2 dari 6
Berawal dari sebuah riset yang melihat bahwa hiu bisa tidak terkena kanker ketika terpapar karsinogen (zat pemicu kanker), muncul pemahaman bahwa hewan ini kebal terhadap penyakit. Produsen pun memasarkan produk dari tulang rawan hiu dengan klaim khasiatnya dapat mengobati kanker.

"Nyatanya hiu itu bisa kena kanker. Sejak riset pertama itu keluar sudah banyak ahli lain yang melihat bahwa hiu di alam bebas dengan tumor," kata pembawa acara SciShow, Hank Green.

Ada pemahaman bahwa pasien kanker sebaiknya menghindari gula karena gula adalah makanan untuk kanker. "Prinsipnya mungkin masuk akal dan sudah ada satu atau dua studi yang mengetes hal ini. Namun bila kita sama sekali tidak makan gula bukan berarti sel kanker akan kurang (makanan) glukosa," ujar Hank.

"Tubuh kita tidak bisa membedakan glukosa mana yang datang dari gula mana yang dari sumber lain seperti protein. Jadi apapun yang kamu makan akan berubah jadi glukosa. Membatasi konsumsi gula tidak akan terlalu memengaruhi tumor," lanjutnya.

Antioksidan memang terbukti punya efek perlindungan terhadap radikal bebas yang dalam jangka panjang dapat merusak DNA. "Jadi kamu mungkin berpikir makan banyak antioksidan akan mencegah kanker. Tapi meski kedengarannya masuk akal bukan berarti hal tersebut benar," kata Hank.

Studi membuktikan bahwa konsumsi suplemen kaya antioksidan tidak terlalu berpengaruh terhadap kemungkinan seseorang terkena kanker. Malah bagi pasien kanker sebaiknya berhati-hati mengonsumsi suplemen.

"Bila kamu sudah memiliki kanker minum suplemen antioksidan justru melihat bisa mempercepat perkembangan kanker. Sebagai contoh satu studi yang dilakukan para peneliti di Swedia melihat melanoma bisa jadi lebih agresif pada tikus yang menerima suplemen antioksidan," pungkas Hank.

Kemungkinan ini karena antioksidan tidak bisa membedakan mana sel sehat dan mana sel kanker. Artinya antioksidan malah akan melindungi sel kanker sehingga bisa berkembang bebas.

Biopsi adalah prosedur medis di mana sampel tumor diambil untuk diteliti di laboratorium. Nah bagi beberapa orang ada anggapan bahwa biopsi ini malah akan membuat tumor lebih mudah lepas dan menyebar di seluruh tubuh.

Hank mengatakan bahwa memang prosedur biopsi dapat mengguncang dan melepaskan beberapa sel tumor dari tempat asalnya, tapi sel tumor ini berbeda dari sel yang memang lepas sendiri.

"Meski sel-sel tumor ini jadi lepas, setelah beberapa saat akan mati sendiri. Ketika biopsi melepaskan sel tumor, sel ini biasanya tidak didesain untuk menyebar ke tempat lain," kata Hank.

Kalau jaman dulu penyakit kanker tidak pernah atau jarang terdengar bukan berarti tidak ada. Kanker adalah penyakit yang buktinya sudah terekam bahkan pada tulang manusia berumur 1,7 juta tahun lalu bahkan tulang dinosaurus.

Jadi anggapan bahwa kanker adalah penyakit modern kemungkinan hanya karena prevalensinya meningkat akibat gaya hidup saat ini yang lebih tidak sehat.

(fds/up)

Berita Terkait