Berikut ini dirangkum detikHealth lima mitos seputar stroke. Jangan segan untuk membagikan informasi ini pada orang terkasih dan jangan sampai terjebak lagi ya.
Stroke tidak dapat dicegah
|
Foto: Thinkstock
|
Berdasarkan data dari penelitian yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information (NCBI) tahun 2017, diperkirakan pada tahun 2050, Asia akan memiliki 72 juta pasien yang mengalami FA. Sedangkan 2,9 juta di antaranya dapat menderita stroke.
"Dengan mengecek denyut nadi, kita bisa tahu itu ada perubahan dari biasanya atau tidak. Misal kita biasanya tidak mudah lelah lalu belakangan gampang lelah dan deg-degan atau napasnya pendek, maka sebaiknya kita harus konsultasikan ke dokter," tuturnya.
Tusuk jarum ke jari
|
Foto: Thinkstock
|
Memberikan pertolongan yang tidak tepat seperti hal tersebut hanya akan membuat waktu semakin terbuang. Belum lagi risiko lainnya seperti infeksi jika jarum yang ditusukan juga tidak steril. Sebaiknya segera cari pertolongan medis.
Stroke hanya menyerang sekali
|
Foto: thinkstock
|
"Orang yang sudah kena stroke memiliki kemungkinan tinggi terkena stroke lagi. Itulah sebabnya penanganan pasien stroke harus hati-hati. Ada juga orang yang sudah kena stroke kemudian tidak sadar. Jika gejala stroke terjadi secara berulang, itu artinya pengobatan dan penangan pasien stroke kurang berhasil," kata Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM.
Stroke yang berulang seringkali lebih berat dibanding stroke yang terjadi sebelumnya karena bagian otak yang terganggu akibat serangan terdahulu belum pulih sempurna. Dampaknya, efek yang terjadi bisa lebih parah.
Anak muda tidak kena stroke
|
Foto: thinkstock
|
"Jadi makin lama makin banyak orang muda menderita stroke karena pola makan karena pola istirahat, pola hidup yang tidak sehat," ujar dokter spesialis bedah saraf, dr Roslan Yusni Hasan.
Stroke ringan bisa sembuh sendiri
|
Foto: Thinkstock
|
"Menyadari secara dini dan segera mencari pengobatan dapat mengurangi besar risiko kematian dan kecacatan setelah serangan stroke ringan," kata peneliti Ashok Handa dari John Radcliffe Hospital seperti dikutip dari Reuters.
Halaman 2 dari 6











































