5 Mitos Seputar Stroke, Masih Sering Terjebak?

5 Mitos Seputar Stroke, Masih Sering Terjebak?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Senin, 26 Mar 2018 11:04 WIB
5 Mitos Seputar Stroke, Masih Sering Terjebak?
Ada banyak mitos yang beredar soal stroke. Foto: Thinkstock
Jakarta - Stroke merupakan salah satu penyakit yang mengkhawtirkan. Dampaknya bisa kelumpuhan atau bahkan kematian. Sayangnya, informasi mengenai penyakit ini masih diiringi dengan mitos yang sering wara-wiri sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

Berikut ini dirangkum detikHealth lima mitos seputar stroke. Jangan segan untuk membagikan informasi ini pada orang terkasih dan jangan sampai terjebak lagi ya.

Stroke tidak dapat dicegah

Foto: Thinkstock
Prof dr Tan Ru San, dokter spesialis jantung senior di Singapura, mengatakan stroke merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini FA.

Berdasarkan data dari penelitian yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information (NCBI) tahun 2017, diperkirakan pada tahun 2050, Asia akan memiliki 72 juta pasien yang mengalami FA. Sedangkan 2,9 juta di antaranya dapat menderita stroke.

"Dengan mengecek denyut nadi, kita bisa tahu itu ada perubahan dari biasanya atau tidak. Misal kita biasanya tidak mudah lelah lalu belakangan gampang lelah dan deg-degan atau napasnya pendek, maka sebaiknya kita harus konsultasikan ke dokter," tuturnya.

Tusuk jarum ke jari

Foto: Thinkstock
"Tidaklah benar kita menusuk telinga atau jari sampai berdarah-darah sehingga stroke-nya menjadi hilang," kata dr Frandy Susatia, SpS dari RS Siloam Kebon Jeruk, dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

Memberikan pertolongan yang tidak tepat seperti hal tersebut hanya akan membuat waktu semakin terbuang. Belum lagi risiko lainnya seperti infeksi jika jarum yang ditusukan juga tidak steril. Sebaiknya segera cari pertolongan medis.

Stroke hanya menyerang sekali

Foto: thinkstock
Faktanya, stroke bisa terjadi berulang dan membawa risiko yang lebih buruk lagi di kemudian hari.

"Orang yang sudah kena stroke memiliki kemungkinan tinggi terkena stroke lagi. Itulah sebabnya penanganan pasien stroke harus hati-hati. Ada juga orang yang sudah kena stroke kemudian tidak sadar. Jika gejala stroke terjadi secara berulang, itu artinya pengobatan dan penangan pasien stroke kurang berhasil," kata Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM.

Stroke yang berulang seringkali lebih berat dibanding stroke yang terjadi sebelumnya karena bagian otak yang terganggu akibat serangan terdahulu belum pulih sempurna. Dampaknya, efek yang terjadi bisa lebih parah.

Anak muda tidak kena stroke

Foto: thinkstock
Sekarang banyak anak muda yang sudah terkena penyakit stroke. Hal ini dikarenakan gaya hidup yang kurang sehat mulai dari kurang gerak, obesitas, atau merokok.

"Jadi makin lama makin banyak orang muda menderita stroke karena pola makan karena pola istirahat, pola hidup yang tidak sehat," ujar dokter spesialis bedah saraf, dr Roslan Yusni Hasan.

Stroke ringan bisa sembuh sendiri

Foto: Thinkstock
Salah besar jika kamu mengalami tanda-tanda stroke besar namun tidak segera mencari pertolongan medis. Dilaporkan dalam British Journal of Surgery, seminggu setelah serangan stroke terjadi hampir semua pasien (99 persen) sebetulnya menunjukkan gejala adanya sumbatan darah. Namun lebih dari 60 persen pasien tersebut menunda mencari pengobatan.

"Menyadari secara dini dan segera mencari pengobatan dapat mengurangi besar risiko kematian dan kecacatan setelah serangan stroke ringan," kata peneliti Ashok Handa dari John Radcliffe Hospital seperti dikutip dari Reuters.

Halaman 2 dari 6
Prof dr Tan Ru San, dokter spesialis jantung senior di Singapura, mengatakan stroke merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini FA.

Berdasarkan data dari penelitian yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information (NCBI) tahun 2017, diperkirakan pada tahun 2050, Asia akan memiliki 72 juta pasien yang mengalami FA. Sedangkan 2,9 juta di antaranya dapat menderita stroke.

"Dengan mengecek denyut nadi, kita bisa tahu itu ada perubahan dari biasanya atau tidak. Misal kita biasanya tidak mudah lelah lalu belakangan gampang lelah dan deg-degan atau napasnya pendek, maka sebaiknya kita harus konsultasikan ke dokter," tuturnya.

"Tidaklah benar kita menusuk telinga atau jari sampai berdarah-darah sehingga stroke-nya menjadi hilang," kata dr Frandy Susatia, SpS dari RS Siloam Kebon Jeruk, dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

Memberikan pertolongan yang tidak tepat seperti hal tersebut hanya akan membuat waktu semakin terbuang. Belum lagi risiko lainnya seperti infeksi jika jarum yang ditusukan juga tidak steril. Sebaiknya segera cari pertolongan medis.

Faktanya, stroke bisa terjadi berulang dan membawa risiko yang lebih buruk lagi di kemudian hari.

"Orang yang sudah kena stroke memiliki kemungkinan tinggi terkena stroke lagi. Itulah sebabnya penanganan pasien stroke harus hati-hati. Ada juga orang yang sudah kena stroke kemudian tidak sadar. Jika gejala stroke terjadi secara berulang, itu artinya pengobatan dan penangan pasien stroke kurang berhasil," kata Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM.

Stroke yang berulang seringkali lebih berat dibanding stroke yang terjadi sebelumnya karena bagian otak yang terganggu akibat serangan terdahulu belum pulih sempurna. Dampaknya, efek yang terjadi bisa lebih parah.

Sekarang banyak anak muda yang sudah terkena penyakit stroke. Hal ini dikarenakan gaya hidup yang kurang sehat mulai dari kurang gerak, obesitas, atau merokok.

"Jadi makin lama makin banyak orang muda menderita stroke karena pola makan karena pola istirahat, pola hidup yang tidak sehat," ujar dokter spesialis bedah saraf, dr Roslan Yusni Hasan.

Salah besar jika kamu mengalami tanda-tanda stroke besar namun tidak segera mencari pertolongan medis. Dilaporkan dalam British Journal of Surgery, seminggu setelah serangan stroke terjadi hampir semua pasien (99 persen) sebetulnya menunjukkan gejala adanya sumbatan darah. Namun lebih dari 60 persen pasien tersebut menunda mencari pengobatan.

"Menyadari secara dini dan segera mencari pengobatan dapat mengurangi besar risiko kematian dan kecacatan setelah serangan stroke ringan," kata peneliti Ashok Handa dari John Radcliffe Hospital seperti dikutip dari Reuters.

(ask/up)

Berita Terkait