Kamis, 10 Mei 2018 17:10 WIB

Transformasi Bocah Tergemuk

Bagaimana Operasi Lambung Bocah Tergemuk di Dunia Dilakukan?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Operasi penyempitan lambung untuk Aria Permana dilakukan di RS Omni Alam Sutera (Foto: Frieda/detikHealth)
Jakarta - Operasi bedah bariatrik biasanya menjadi solusi terakhir bagi para pasien obesitas ekstrem. Prinsipnya adalah membatasi kapasitas lambung untuk menurunkan berat badan.

Aria Permana (12), yang sebelumnya kerap ditulis Ariya, pengidap obesitas yang dijuluki bocah tergemuk di dunia asal Karawang merupakan kasus spesial. Operasi bariatrik biasanya ditujukan kepada orang yang sudah selesai masa pertumbuhan, yaitu sekitar 15-65 tahun.

Bagi dr Handy Wing, SpB, FBMS, FICS, dokter spesial bedah umum yang menanganinya di OMNI Hospital Alam Sutera, Tangerang pada Juli 2017, operasinya melalui banyak pertimbangan dan tahap.

Operasi bariatrik dapat dilakukan dengan beberapa metode, dan pada Aria dilakukan metode laparoscopic sleeve gastric surgery. Yaitu menyempitkan lambung dengan cara memotong sebagian besar lambung dan hanya menyisakan sekitar 30 persen.

"Untuk kasus ekstrem seperti Aria ini kan masih 10 tahun, masih masa pertumbuhan. Risikonya masih kecil karena tidak merubah anatomi, jadi risiko kekurangan nutrisi, gizi, vitamin lebih kecil," terang dr Handy kepada detikHealth, Rabu (9/5/2018).

Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mengecilkan lambung.Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mengecilkan lambung. Foto: Frieda/detikHealth




Pertama-tama, Aria harus dicek Indeks Massa Tubuh (BMI) untuk mengetahui dia termasuk dalam kategori obesitas yang mana. Cara menghitung BMI adalah berat badan dibagi kuadrat tinggi badan. Standar BMI untuk orang Asia masuk ke level obese adalah 27,5 kg/m2.

Obesitas terdiri dari 3 level, level tertinggi memiliki total indeks massa tubuh lebih dari 40. Saat itu perhitungan BMI Aria lebih dari 80, maka ia termasuk obesitas ekstrem dan operasi bariatrik merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan Aria dari berbagai risiko komplikasi penyakit degeneratif.

Jika level obesitasnya masih bisa dibantu dengan diet dan olahraga, ya (operasi bariatrik) tidak perludr Handy Wing, SpB, FBMS, FICS - RS Omni Alam Sutera


Namun dr Handy mengingatkan bahwa operasi ini bukan operasi kosmetik, sehingga operasi bariatrik tidak sembarang disarankan. "Jika level obesitasnya masih bisa dibantu dengan diet dan olahraga, ya tidak perlu. Tergantung dari individunya," imbuhnya.

Setelah keputusan dibuat, tim dr Handy menyampaikan kepada orang tua Aria dan Aria sendiri mengenai operasi tersebut. Meski disebut dengan bedah, namun yang sesungguhnya operasi ini tidak 'membelah perut' seperti pada umumnya kita mendengar operasi bedah.

"Operasi bariatrik hanya menggunakan alat sebesar pulpen, yang nanti akan ditusuk masuk ke dalam perut lalu bekerja dari situ lewat kamera kecil yang terpasang. Operasi dilakukan dengan cara melihat dari video dari kamera tersebut," terang dr Handy lagi.

dr Handy menjelaskan tahap-tahap operasi bariatrik dilakukan.dr Handy menjelaskan tahap-tahap operasi bariatrik dilakukan. Foto: Frieda/detikHealth




Kurang lebih alat tersebut berjumlah 5 buah dalam sekali operasi, yang nantinya hanya akan menyisakan lima luka kecil di perut Aria yang akan mudah sembuh. Ada satu alat berbentuk seperti alat catok, yang nantinya akan menggunting lambung Aria dalam porsi besar, dan langsung menutup potongannya tanpa perlu menjahitnya.

Alat ini langsung menyegel potongan lambung dengan baik, tanpa menyisakan sedikitpun kesempatan cairan lambung keluar dan merusak organ tubuh lainnya.

Selama operasi Aria akan dibius total, sebelum ditusukkan alat tersebut perutnya dikembungkan terlebih dahulu dengan gas agar mempermudah jalannya operasi. Aria juga harus berpuasa setidaknya 12 jam untuk menyingkirkan sisa makanan dalam lambung.

Potongan lambung yang telah digunting akan ditarik keluar melalui lubang terbesar. Operasi bariatrik sleeve ini hanya membutuhkan waktu satu jam, di mana setelah itu Aria harus menghadapi tahap pemulihan.

"Tahap pemulihannya cukup lama. Aria harus makan cairan terlebih dahulu selama kurang lebih dua minggu, kami beri dia susu protein. Bisa juga kuah sayur, air putih, buburpun nggak boleh. Agar lambungnya juga dapat beradaptasi, dari yang biasa mengasup kurang lebih berapa ribu kalori menjadi hanya sekian kalori," jelas dr Handy yang telah menangani 140-an pasien operasi bariatrik ini.



[Gambas:Video 20detik]



Setelah itu Aria baru diperbolehkan makan, namun dengan ukuran lambung baru yang diperkecil porsi makannya juga akan ikut menjadi kecil, yaitu sekitar lima sendok makan. Jika dipaksa, Aria bisa muntah karena melebihi kapasitas.

Semua operasi bariatrik hanyalah sebagai alat untuk membantu penurunan berat badan. Namun, kesuksesan dari penurunan berat badan itu sendiri tergantung dari konsistennya Aria dan orang tua dalam asupan sehari-hari dan olahraga.

"Bagus ya, jadi orang tua sama aria sendiri udah berbeda dibanding sebelum operasi. Jadi banyak keluhan, banyak edukasi, jadinya mereka udah melek kalau ini salah. Terus yang tadinya kasih junk food, minuman manis gitu sekarang udah tahu dikasih protein ayam, ikan, nasi secukupnya. Minuman manis dibatasi," tandas dr Handy.

Sementara, dengan berat Aria sekarang yang sudah 109 kilogram, ia masih tergolong obesitas. Perjalanannya masih cukup panjang untuk mencapai indeks massa tubuh yang normal dan lepas dari label 'obesitas'.

(up/up)