ADVERTISEMENT

Jumat, 11 Mei 2018 17:42 WIB

Pura-pura Sakit di Hari Kejepit

Kata Psikolog Soal Bikin Surat Sakit Demi Bolos di Hari Kejepit

Nabilla Nufianty Putri - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Bikin surat sakit dilakukan oleh para pekerja kantoran yang ingin bolos di hari kejepit seperti hari ini. Padahal menurut psikolog, berbohong demi tidak masuk kerja hanya memberikan kesenangan sementara.

Orang yang berbohong demi untuk tidak masuk bekerja umumnya dilatar belakangi oleh rasa tanggung jawab kerja yang rendah, kurangnya motivasi kerja, dan dorongan yang besar untuk mendapatkan kesenangan sementara. Kesenangan tersebut berupa terbebas dari tanggung jawab pekerjaan dan bebas melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya.


Padahal menurut Veronica Adesla, psikolog dari Klinik Personal Growth, rasa senang yang didapat hanyalah sebentar, karena masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan lagi setelahnya. Usai bolos, pekerja bisa mengalami frustasi karena tidak selesainya tanggung jawab yang dihindari.

"Sesungguhnya rasa senang ini hanya bersifat sementara, karena setelahnya, ia harus tetap harus berhadapan dengan tanggung jawabnya untuk bekerja, yang biasanya semakin terasa berat dan membuat frustasi," urai Veronica.

"Perasaan semakin berat dan frustasi untuk masuk kerja, sehabis 'meliburkan' diri diakibatkan oleh tidak selesainya sumber persoalan individu yang sesungguhnya," tambahnya lagi, saat dihubungi detikHealth.

Berbohong dan mencari alasan hanyalah upaya individu untuk menghindari persoalan, yang tanpa disadari berujung pada menciptakan persoalan yang lebih besar.

Setiap individu harus mempertanggung jawabkan perilakunya, termasuk siap dengan konsekuensi yang harus dihadapi apabila ketahuan berbohong.

Veronica menyebut contoh konsekuensi yang dihadapi pekerja antara lain dipotong cuti, diberi surat peringatan (SP), hingga dikeluarkan dari perusahaan jika ketahuan berbohongnya sudah sering.

"Hadapilah konsekuensi yang muncul dari sikap dan perilaku kamu. Terima risiko yang harus ditanggung dengan lapang dada. Apabila ketahuan, akuilah kesalahan, dan meminta maaf. Bila tidak ketahuan, bukan berarti kamu dapat melakukannya lagi di lain waktu, melainkan berarti kamu diberi kesempatan untuk berubah," tutupnya.

(Nabilla Nufianty Putri/mrs)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Breaking News
×
Update Korban Tragedi Kanjuruhan
Update Korban Tragedi Kanjuruhan Selengkapnya