Senin, 04 Jun 2018 18:25 WIB

Bagaimana Memilih Kolang-kaling yang Aman Dikonsumsi?

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Formalin sebetulnya tidak banyak dipakai untuk kolang kaling (Foto: Aisyah/detikHealth)
Jakarta - Isu pemakaian formalin dan boraks pada kolang-kaling sepertinya telah menjadi masalah yang cukup santer dari tahun ke tahun, meskipun pada dasarnya kolang-kaling merupakan makanan yang cukup awet.

Nah, detikHealth mewawancarai sejumlah orang untuk membagikan tipsnya memilih kolang-kaling yang aman untuk dikonsumsi. Yang pertama adalah Sari (23), seorang ibu rumah tangga.

"Yang empuk-empuk, kalau yang keras lama ngerebusnya jadi enggak enak. Pilihnya juga yang bening," kata Sari.

Selain itu, Safitri (26), seorang ibu muda menuturkan hal yang agak berbeda. "Pilih yang enggak kuning, enggak berlendir, enggak bau, sama masih keras sebelum direbus," tuturnya.



Dihubungi oleh detikHealth, Dr Rahmawati, Wakil Dekan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Sahid Jakarta menuturkan bahwa sebenarnya penggunaan formalin lebih marak digunakan untuk makanan seperti mie basah, ikan asin, dan juga tahu. Sementara untuk penggunaan di makanan lainnya seperti kolang-kaling cenderung masih sedikit.

"Kalau makanan yang tadi (kurma, cheese stick, dan kolang-kaling) tidak mudah rusak artinya penggunaan (bahan berbahaya) barang tersebut masih sedikit lah penggunaannya, tapi ya bisa dikatakan masih harus lebih waspada," jelas Dr Rahmawati.

Beberapa waktu lalu, pakar teknologi pangan, Roy Sparringa, menjelaskan bahwa membedakan makanan yang mengandung berbahan kimia berbahaya, secara kasat mata cukup sulit. Sehingga untuk mengetahui secara pasti harus dibuktikan dan diuji sampelnya di laboratorium.

"Wajib diuji formalin dan boraks, sesuai SOP (Standard Operating Procedure) kolang-kaling. Biasanya ujinya apa, jangan acak," tegas Roy, yang pernah menajabat sebagai Kepala BPOM.



Berdasarkan penyuluhan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), formalin biasanya membuat bahan makanan menjadi lebih kenyal dan juga awet. Warna pada makanan juga menjadi lebih pucat (putih) serta tidak mudah busuk. Bau khas makanan pun tidak tercium, justru muncul bau menyengat. Terakhir, makanan tidak akan dihinggapi oleh lalat bila diletakkan di tempat terbuka.

Masuknya formalin ke dalam tubuh secara jangka panjang dapat meningkatkan risiko terkena kanker serta kerusakan otak, hati, dan paru-paru seseorang. (ask/up)