Dari Usia Hingga Obesitas, Ini 6 Faktor Risiko Saraf Kejepit

Dari Usia Hingga Obesitas, Ini 6 Faktor Risiko Saraf Kejepit

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Selasa, 12 Jun 2018 16:04 WIB
Dari Usia Hingga Obesitas, Ini 6 Faktor Risiko Saraf Kejepit
Jakarta - Saraf kejepit, atau bisa disebut Herniated Nucleus Pulposus (HNP) dalam istilah medis, disebabkan oleh tonjolan abnormal dari bantalan tulang yang menekan saraf-saraf di tulang belakang. Jika tak segera tertangani, HNP dapat membahayakan kesehatan kita.

"Dari mulai keluhan subyektif seperti nyeri, kebas, kesemutan sampai gangguan motorik: kelumpuhan (sebagian atau total), dan gangguan saraf otonom: tidak bisa menahan kencing dan berak, tidak bisa ereksi (pada laki-laki)," terang dokter bedah saraf, dr Roslan Yusni Hasan, SpBS, atau yang akrab disapa dr Ryu, kepada detikHealth, Senin (11/6/2018).

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah faktor-faktor risiko seseorang dapat mengalami saraf kejepit atau HNP:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usia dan jenis kelamin

Foto: ilustrasi/thinkstock
Umumnya, HNP terjadi pada rentang usia antara 35 dan 50 tahun dan jarang terjadi pada anak-anak atau orang di atas 80 tahun. Dan pria berisiko mengalami HNP dua kali lipat dibandingkan pada wanita, terutama pada bagian lumbal atau pinggang.

Makin kita bertambah tua, secara alamiah tulang punggung kita juga bertambah tua. Sehingga akan terjadi degenerasi pada bantalan tulang punggung yang dapat membuat kita rentan alami saraf kejepit.

Pekerjaan berat

Foto: Thinkstock
Pekerjaan yang membutuhkan mengangkat beban berat memiliki risiko sangat besar terkena HNP, terutama di bagian lumbal (pinggang). Menarik, mendorong dan gerakan memutar dapat meningkatkan risiko apabila dilakukan berulang-ulang.



Gaya hidup sedenter

Foto: Thinkstock
Merupakan gaya hidup di mana seseorang sangat jarang melakukan aktivitas pada era modern saat ini. Terutama para pekerja kantoran yang menghabiskan waktu lebih banyak duduk ketimbang bergerak.

Karena terlalu lama berdiam dalam satu posisi dan cenderung tidak diikuti dengan postur yang bagus, maka dari itu mereka yang memiliki gaya hidup sedenter lebih berisiko terkena HNP.

Obesitas

Foto: thinkstock
Berat badan berlebih dapat memberi tekanan ekstra pada tulang punggung, sehingga mereka yang obesitas rentan terkenan HNP bahkan 12 kali lebih mungkin mengalami rekurensi atau kekambuhan, meski sudah menjalani operasi microdiscectomy.

Merokok

Foto: ilustrasi/thinkstock

Nikotin membatasi aliran darah ke bantalan tulang punggung, sehingga mempercepat terjadinya degenerasi dan menghambat pemulihan. Bantalan yang terdegenerasi menjadi kurang lentur, sehingga rentan retak atau patah, dan kemudian menjadi HNP.

Riwayat genetik

Foto: ilustrasi/thinkstock
dr Ryu menyebutkan bahwa HNP lebih banyak dipengaruhi oleh genetik ketimbang kebiasaan, dan hal ini didukung oleh adanya literatur medis yang mengungkapkan adanya tendensi herediter atau riwayat genetik pada HNP.

Satu studi yang berkelanjutan menemukan bahwa adanya riwayat keluarga dalam HNP di area lumbal atau pinggang menjadi alat prediksi paling baik untuk menentukan kemungkinan terkena HNP di masa depan.
Halaman 2 dari 7
Umumnya, HNP terjadi pada rentang usia antara 35 dan 50 tahun dan jarang terjadi pada anak-anak atau orang di atas 80 tahun. Dan pria berisiko mengalami HNP dua kali lipat dibandingkan pada wanita, terutama pada bagian lumbal atau pinggang.

Makin kita bertambah tua, secara alamiah tulang punggung kita juga bertambah tua. Sehingga akan terjadi degenerasi pada bantalan tulang punggung yang dapat membuat kita rentan alami saraf kejepit.

Pekerjaan yang membutuhkan mengangkat beban berat memiliki risiko sangat besar terkena HNP, terutama di bagian lumbal (pinggang). Menarik, mendorong dan gerakan memutar dapat meningkatkan risiko apabila dilakukan berulang-ulang.



Merupakan gaya hidup di mana seseorang sangat jarang melakukan aktivitas pada era modern saat ini. Terutama para pekerja kantoran yang menghabiskan waktu lebih banyak duduk ketimbang bergerak.

Karena terlalu lama berdiam dalam satu posisi dan cenderung tidak diikuti dengan postur yang bagus, maka dari itu mereka yang memiliki gaya hidup sedenter lebih berisiko terkena HNP.

Berat badan berlebih dapat memberi tekanan ekstra pada tulang punggung, sehingga mereka yang obesitas rentan terkenan HNP bahkan 12 kali lebih mungkin mengalami rekurensi atau kekambuhan, meski sudah menjalani operasi microdiscectomy.

Nikotin membatasi aliran darah ke bantalan tulang punggung, sehingga mempercepat terjadinya degenerasi dan menghambat pemulihan. Bantalan yang terdegenerasi menjadi kurang lentur, sehingga rentan retak atau patah, dan kemudian menjadi HNP.

dr Ryu menyebutkan bahwa HNP lebih banyak dipengaruhi oleh genetik ketimbang kebiasaan, dan hal ini didukung oleh adanya literatur medis yang mengungkapkan adanya tendensi herediter atau riwayat genetik pada HNP.

Satu studi yang berkelanjutan menemukan bahwa adanya riwayat keluarga dalam HNP di area lumbal atau pinggang menjadi alat prediksi paling baik untuk menentukan kemungkinan terkena HNP di masa depan.

(frp/up)

Berita Terkait