Senin, 30 Jul 2018 17:10 WIB

Trastuzumab Dihapus Berdasarkan Penelitian, BPJS: Kebetulan Mahal

Widiya Wiyanti - detikHealth
BPJS menyebut jaminan trastuzumab dihapus karena studi melihat efek terapi yang minim. (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth) BPJS menyebut jaminan trastuzumab dihapus karena studi melihat efek terapi yang minim. (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth)
Jakarta - Obat kanker payudara HER2 positif, trastuzumab dihapus dari jaminan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan banyak diperbincangkan, bahkan pasien kanker, Yuniarti Tanjung alias Juniarti pun sampai menggugat BPJS Kesehatan.

Ditemui di Media Center BPJS Kesehatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Deputi Direksi Bidang Jaminan Pelayanan Kesehatan Rujukan BPJS Kesehatan, Budi Mohamad Arief mengatakan bahwa alasan utama dari penghapusan obat trastuzumab tersebut berdasarkan hasil penelitian.

"Jadi memang kami sudah melakukan pertemuan dengan DPK (Dewan Pertimbangan Klinis), DPM (Dewan Pertimbangan Medis) pun menunjukkan hasil penelitian yang memang secara khusus memperlihatkan efek terapi obat trastuzumab pada pasien-pasien CA dengan HER2 positif ternyata memang dari hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan," ujarnya Senin (30/7/2018).



Menurutnya, kemanfaatan obat tersebut menjadi dasar dari penghapusan trastuzumab dari jaminan. Dan ditambah dengan biayanya yang cukup mahal, sekitar 25 juta per ampul untuk satu kali sesi pengobatan.

"Mengapa kami berikan sesuatu kalau ahlinya mengatakan bahwa itu sudah tidak memberikan efek medis? Kebetulan harganya mahal. Di sana kami juga bisa lebih efisien," terang Budi.

Pada prinsipnya, BPJS akan menjamin segala hal yang berkualitas bagi anggotanya untuk perbaikan kesehatan. Namun, Budi pun tidak menampik bahwa kemampuan dalam bidang pembiayaan BPJS terbatas.

"Tapi kalau ternyata tidak (bermutu) dan hanya menimbulkan biaya yang tinggi, maka kami melihat kemampuan diri kami akan pembiayaan yang mana BPJS terbatas dalam hal pembiayaan, kemudian kita nyatakan trastuzumab tidak dijamin," jelasnya.

Mengenai gugatan Yuniarti yang didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Jumat (27/7/2018), pihak BPJS akan mengikuti segala proses hukum dengan baik dan juga mempersiapkan berkas-berkas yang mendukung keputusannya itu.

(fds/fds)
News Feed