Kamis, 16 Agu 2018 11:05 WIB

Jangan Skip ASI Eksklusif Jika Tak Ingin Anak Stunting

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi stunting atau tubuh pendek pada anak tercatat pada angka 37,2 persen atau sekitar 9 juta anak. Angka tersebut diyakini dapat ditekan hanya dengan menyusui bayi dengan air susu ibu (ASI) ekslusif sebagai sumber nutrisi terbaik.

Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr Wiyarni Pambudi, SpA-IBCLC menjelaskan bahwa pemberian ASI secara eksklusif pada dua tahun pertama dapat menurunkan prevalensi stunting hingga sebesar 50 persen.

"Mengapa menyusui itu penting, karena mencegah hambatan pertumbuhan. ASI juga meningkatkan 12 poin IQ," papar dr Wiyarni di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Rabu (15/8/2018).

Stunting juga bukan hanya masalah kegagalan anak mencapai tinggi badan normal, namun ditakutkan juga mengalami defisit kognitif. Sehingga anak tidak bisa mencapai prestasi dan berpengaruh pada masa depannya termasuk kehilangan peluang kerja dan menggagalkan perbaikan status ekonomi.


Untuk ibu-ibu yang mempunyai riwayat stunting jika hamil risikonya lebih besar mempunyai bayi dengan berat badan lebih rendah (BBLR) dan berisiko stuntingnya 4-5 kali lipat lebih besar dibanding bayi yang lahir dengan berat badan normal.

Ditambahkan oleh Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Ir Doddy Izwardi, MA bahwa persentasi bayi mendapat inisiasi menyusui dini dan mendapat ASI eksklusif menurut provinsi mengalami peningkatan.

"Jadi ada kenaikan di sini, 2015 sampai 2017, daripada IMD dari 51 persen menjadi 58 persen. Pemberian ASI eksklusif juga mengalami peningkatan, dari 29,5 persen menjadi 35,7 persen. Yogyakarta di situ tinggi tuh, itu karena mereka ada Perdanya, ada komitmen dari daerahnya untuk mendukung pemberian ASI eksklusif," jelasnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah kondisi di mana anak-anak mengalami malnutrisi sehingga pertumbuhan tingginya di bawah standar dan berkontribusi menjadi penyakit-penyakit tak menular. Dari hasil Pemantauan Status Gizi 2017, stunting Indonesia masuk dalam kategori medium dengan prevalensi 29,6 persen.





Tonton juga 'Manfaat ASI bagi Anak':

[Gambas:Video 20detik]

(frp/up)
News Feed