Rabu, 05 Sep 2018 12:37 WIB

Mengulik Panti Rehabilitasi Si 'Kupu-kupu Malam'

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Hipnoterapi, salah satu kegiatan di PSKW Mulya Jaya. Foto: Dok.Depsos Hipnoterapi, salah satu kegiatan di PSKW Mulya Jaya. Foto: Dok.Depsos
Jakarta - Suasana tampak sepi ketika detikHealth memasuki area Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Mulya Jaya. Saat itu hari Senin, di mana para penghuni panti tengah mengadakan pertemuan bersama di suatu aula.

"Hari ini, dari kemarin sih, mereka sedang menjalani yang namanya ventilasi. Mengeluarkan unek-unek supaya plong," kata Abdul Rahman, penyuluh di PSKW Mulya Jaya.

Dijelaskan olehnya, ada dua angkatan yang akan ditemani untuk membuka lembaran baru, angkatan pertama menjalani dari Januari-Juli dan angkatan kedua dari Agustus-Desember. Biasanya per angkatan berjumlah 80 orang.

Di sini pun ada banyak kegiatan karena PSKW Mulya Jaya ingin menekankan wanita-wanita yang ada di panti bukanlah tahanan penjara. Mereka dibimbing untuk mengatasi trauma yang mereka alami dan bahkan dibantu untuk mengembangkan kemampuan yang mereka miliki.

Pendekatan yang digunakan pun beragam, karena pada dasarnya setiap orang punya pengalaman yang berbeda-beda pula.

"Kalau ada yang mengalami trauma berat nanti akan dirujuk ke psikolog. Tapi mereka ini rata-rata tertutup, anggapannya enggak ada masalah, padahal menurut orang awam mereka ini membuat kekerasan. Menurut dia enggak, dia sudah mengunci hatinya itu 'ah sudahlah saya sudah dapat bayaran.' Mereka itu pasrah, butuh duit intinya duit, duit, duit, apapun dilakukan," ungkap pria dengan sapaan akrab Abdul tersebut.


Bimbingan spiritual dzikir hati bersama Ust. H. SyafwardiBimbingan spiritual dzikir hati bersama Ust. H. Syafwardi Foto: Dok.Depsos


Tapi mereka ini rata-rata tertutup, anggapannya enggak ada masalah, padahal menurut orang awam mereka ini membuat kekerasan. Menurut dia enggak, dia sudah mengunci hatinya itu 'ah sudahlah saya sudah dapat bayaran.' Mereka itu pasrah, butuh duit intinya duit, duit, duit, apapun dilakukan,Abdul Rahman, penyuluh di PSKW Mulya Jaya.
Maka ketika mereka mengalami kekerasan seksual, mereka cenderung melakukan 'pembiaran'.

"Mungkin karena mereka sudah terlalu sering, dan dibuanglah hati mereka itu, maka ya sudah," kata Abdul.

Masih kata Abdul, meskipun terbilang sulit untuk membuat mereka terbuka, penghuni panti cenderung lebih terbuka ketika menjalani pendekatan spiritual. Salah satunya dengan metode pendekatan dzikir kalbu dengan berdzikir dalam hati selama beberapa menit.

"Kita punya ustadz yang membimbing dengan metode pendekatan dzikir kalbu, di sanalah mereka akan merasakan kehadiran Allah, nur Ilahi masuk, di situ dengan sendirinya mereka bertaubat, 'oh ini salah', nah itu," jelasnya.

Akan tetapi, beberapa penghuni panti yang memang mengalami pengalaman traumatis beberapa juga membutuhkan intervensi dengan bantuan dari psikolog. Sebulan sekali juga diadakan hipnoterapi.

Tak hanya itu, PSKW percaya bahwa trauma healing (penyembuhan trauma) terbaik dapat dilakukan dengan cara pendekatan sosial. Karena itu, wanita penghuni panti di bagi menjadi beberapa kelompok yang didalamnya terdapat (dapat dikatakan) mentor dari pekerja sosial untuk membantu mendengarkan keluh kesah mereka.



"Panti ini yang punya SDM sangat lengkap, ada pekerja sosial sebagai SDM utama, ada penyuluh sosial sebagai garda depan memberikan penyuluhan mereka selama mereka rehab termasuk juga keluarganya, ada psikolog, ada pembimbing agama, bahkan ada perawat. Jadi kalau sakit kelaminnya, ada IMS, diobati oleh perawat bekerjasama dengan dokter RSCM, spesialis kulit dan kelamin, sama puskesmas Pasar Rebo. Untuk deteksi HIV-AIDS dan IMS," paparnya.

Khusus Senin dan Kamis ada jadwal kunjungan atau konsultasi keluarga untuk mengetahui perkembangan keluarganya yang ada di sini. Di hari ini pula lah biasanya keluarga akan diinformasikan secara langsung mengenai keberadaan anggota keluarganya di dalam PSKW.

"Rata-rata karena informasi bertolak belakang, informasi yang diterima itu enggak mungkin kan mereka (wanita penghuni panti) cerita ada apanya. Di sinilah proses netralisir, kalau orang tua baru tahu anaknya menjual diri, kan reaksinya macam-macam ada yang pasrah ada yang marah-marah. Nah yang marah-marah ini yang kita jaga. Pernah juga anaknya ditempeleng, kan itu udah kekerasan fisik," paparnya.

Kembali ke kampung halaman, menata masa depan yang lebih cerah.Kembali ke kampung halaman, menata masa depan yang lebih cerah. Foto: Dok.Depsos


"Keluarga juga diberitahukan kondisi anak mereka sehingga diharapkan tidak lagi mengungkit-ngungkit trauma yang sudah di alami si anak," katanya.

Nah dari sanalah PSKW Mulya Jaya membantu untuk menjembatani komunikasi antara anak dan keluarga, sebab begitu kembali dari pelatihan di panti selama 6 bulan, keluargalah yang menjadi pihak yang punya andil besar untuk mengawasi anak mereka agar tidak kembali ke dunia prostitusi.



Selain bimbingan per orangan dengan berbagi cerita dengan pekerja sosial yang menjadi pendamping kelompok, kebanyakan wanita di dalam sana juga punya cara tersendiri untuk meredakan kekhawatiran.

"Kita biasanya punya buku diary masing-masing," kata salah seorang penghuni panti.

Tak hanya proses trauma healing dan komunikasi antar anak dan keluarga, sebelum pulang, penghuni panti juga diberikan bekal ketrampilan berdasarkan minat yang mereka miliki. Minat tersebut juga didasari psikotest minat dan bakat dari psikolog.

Ada banyak pilihan pelatihan ketrampilan yang difasilitasi antara lain menjahit manual, menjahit high speed dan bordir, tata rias rambut, ketrampilan olahan pangan dan kuliner, tata rias pengantin, handy craft, sampai komputer dan perpustakaan.

Belum lagi sarana pendukung seperti ruang poliklinik, musola, ruang makan dan dapur, lapangan olahraga. Oh ya, bahkan ada kegiatan outbond lho untuk membuat hati menjadi riang gembira.

"Jadi banyak upaya oleh lembaga atau Kementerian Sosial untuk 'Indonesia Zero Lokalisasi Prostitusi', itu targetnya 2019. Tahun ini tinggal 19 lagi PR-nya yang harus ditutup," kata Abdul.

Sebelum penghuni panti dikembalikan, PSKW juga melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan pemerintah daerah.

"Lalu diberikan paket bantuan berupa seperangkat alat ketrampilan dilakukan di rumah, sebelum di rumah pun kita upayakan keluarganya datang ke panti yang namanya family support. 'Ini lho anaknya sebentar lagi datang, jangan diusir lagi di rumah'," jelas Abdul.

Bahkan pulang pun di antar sampai ke rumah masing-masing. Akan tetapi pemantauan akan tetap dilakukan oleh dinas sosial setempat dan juga keluarga.

"Kalau dia ada usaha, kita berikan bantu modal. Tahun kemarin Rp 5 juta," lanjutnya.


(ask/up)