Kamis, 20 Sep 2018 18:35 WIB

Benci Suara Kunyahan? Bisa Jadi Tanda Kondisi Medis

Christantio Utama - detikHealth
Ilustrasi mengunyah makanan. Foto: Getty Images
Jakarta - Ada yang pernah merasakan ini? Coba deh colek teman kamu atau mungkin orang lain yang kamu tahu yang merasa kesal ketika dengar suara orang mengunyah makanan. Ada?

Tahu enggak sih, ini bisa jadi tanda kondisi medis yang disebut misophonia yang bila diterjemahkan berarti 'pembenci suara'. Ash Gupta, audiologis dari tenaga kesehatan di National Hearing Care menjelaskan mengenai hal ini lebih lanjut seperti dikutip dari Body+Soul.

"Namun, itu sedikit lebih dari itu. Untuk memilikinya (misophonia), kamu tidak bisa hanya tidak menyukai suara, kamu juga harus bereaksi negatif terhadapnya. Beberapa orang mengalami rasa marah atau kecemasan, yang lain merasa harus pergi, beberapa orang memiliki reaksi fisik di mana mereka tersentak atau harus menutup telinga mereka," tutur Gupta.

Meski kedengarannya sederhana, ada kasus yang ekstrem lho di mana kondisi ini sangat berpengaruh serius di kehidupannya. Ada orang-orang yang sampai menghindari waktu makan bersama keluarga karena menghindari suara-suara tersebut.



Bahkan bisa berpengaruh pada performa seseorang seperti yang dipublikasikan di jurnal 'Applied Cognitive Psychology' yang menemukan mengalami skor yang lebih rendah pada ujian ketika ada seseorang yang mengunyah di kubikel sebelah mereka. Malah dalam satu kasus di 2013, ada yang memutuskan mengakhiri hidupnya karena misophonia.

Ada hal-hal yang bisa memancing misophonia misalnya suara balon permen karet yang pecah, suara kunyahan makan, suara hidung saat mencium, suara napas, suara jentikan pulpen, suara jarum jam, atau suara ketikan jari tangan atau langkahan kaki.

Sekarang belum ada pengobatan untuk misophonia, akan tetapi ada beberapa pengobatan yang bisa membantu memoderasi reaksi dari suara yang memancing. Meniru suara yang jadi pemancing dari kondisi tersebut juga bisa dilakukan, misalnya nih kamu tidak suka mendengar suara orang mengunyah maka berpura-puralah mengunyah saat mendengar suara tersebut, sesuaikan suaranya dengan gerakan mulutmu.

Membatasi asupan kopi juga bisa diperhatikan. Studi tahun 2013 menemukan 36 persen orang melaporkan gejala misophonia yang ia miliki bertambah parah usai mengonsumsi kafein.

(Christantio Utama/up)