Kamis, 27 Sep 2018 10:32 WIB

Hipertensi Paru: Penyakit Langka, Obatnya Juga Langka

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi obat hipertensi. Foto: Thinkstock Ilustrasi obat hipertensi. Foto: Thinkstock
Jakarta - Data Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI) menyebutkan bahwa dari 14 jenis obat untuk hipertensi paru, hanya empat jenis yang tersedia di Indonesia dan hanya satu yang ditanggung oleh BPJS.

"Adapun mengenai obat yang belum ada di Indonesia, kami sedang melihat kegunaannya untuk siapa, bagaimana indikasinya, dan pasiennya ada berapa," ujar Direktur Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan Indonesia, Dra R Dettie Yuliati, Apt. M.Si saat ditemui pada Dialog Penyakit Hipertensi Paru di Raffles Hotel, Jakarta Selatan. Senin (24/9/2018).



Kesulitan yang dihadapi oleh pasien untuk mendapatkan obat karena harga obat yang cenderung mahal karena hipertensi paru merupakan penyakit yang langka sehingga perlunya dorongan dari dokter dan rumah sakit untuk mendata jumlah pasien yang terkena hipertensi paru.

"Untuk beraprost itu sudah ada di Kemenkes, sudah bisa digunakan dan ditanggung oleh BPJS. Kalau sidenafil, sedang proses untuk masuk e-katalog," tambahnya.

Menurutnya, harus ada data dari rumah sakit serta himpunan atau yayasan agar obat bisa diusulkan pada bahasan saat rapat di Kemenkes. Perlunya evidence based sehingga jumlah obat bisa disesuaikan dengan jumlah penderita yang ada di Indonesia.

Hipertensi paru merupakan kondisi tekanan darah tinggi yang terjadi di arteri pulmonalis atau pembuluh darah di sekitar paru. Sering disangka infeksi TB (Tuberkulosis) dan bisa berdampak fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

(Khadijah Nur Azizah/up)
News Feed