Sabtu, 22 Des 2018 16:17 WIB

Aktivis Antirokok: Remaja Tertipu Anggapan Rokok Elektrik Lebih Aman

Rosmha Widiyani - detikHealth
Siapa bilang vape lebih aman? Foto: iStock
Jakarta - Image rokok elektrik (vape) yang lebih aman ternyata sukses menipu para remaja. Padahal sama seperti rokok batangan, produk elektrik juga bisa menimbulkan ketergantungan dan mengganggu kesehatan misal kanker paru. Korban penipuan ini tampaknya makin banyak, hingga menimbulkan kekhwatiran sekolah.

"Kita memang belum punya data terkait jumlah remaja konsumen vape tiap tahun, namun sebuah SMA di Jakarta Barat sempat mengajak kita untuk sosialisasi karena merasa khawatir. Para siswa merasa lebih aman karena vape bukan rokok batangan," kata Project Manager Smoke Free Agents (SFA) Intan Rahmaningtyas pada detikHealth.

Menurut Intan, siswa laki-laki sekolah tersebut sempat ditemukan beberapa kali mengisap vape di luar lingkungan sekolah. Melalui pengamatan lapangan diketahui, para siswa mendapat informasi soal vape dari media sosial. Para siswa juga tertarik dan penasaran pada komunitas vape yang banyak bermunculan.

Rasa ingin tahu remaja dimanfaatkan produsen dan distributor vape, dengan membanjiri info yang mengesankan keamanan vape. Strategi ini sukses menarik konsumen baru dari remaja dari dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok yang menolak rokok karena tahu bahayanya, namun tak keberatan dengan vape karena merasa lebih aman.

Kelompok kedua adalah remaja yang ingin berhenti merokok dengan menggunakan vape. Bukannya berhasil berhenti, kelompok ini justru mengonsumsi dua jenis produk tembakau yaitu rokok elektrik dan batangan. Vape memang sempat menjadi alternatif pengganti rokok konvensional, dengan tingkat keamanan dan risiko kesehatan dari produk tersebut yang relatif sama.


Hasil pengamatan lain menyatakan, hingga saat ini konsumen vape remaja berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi baik. Menurut Intan, hal ini terkait dengan harga vape yang masih mahal daripada rokok batangan. Alat hisap vape bisa diperoleh dengan harga mulai Rp 180 ribu, sedangkan cairannya dihargai mulai Rp 150-200 ribu.

Namun, harga bisa menurun seiring makin meningkatnya pengguna rokok elektrik. Dengan harga yang lebih murah, vape bisa dikonsumsi remaja dari kelompok ekonomi lemah hingga menengah. Mengantisipasi kemungkinan ini, Intan mengatakan SFA telah menyiapkan strategi sosialisasi yang akan diterapkan pada 2019. Strategi ini akan menitikberatkan pada dampak buruk vape berdasar hasil riset lembaga kesehatan internasional WHO pada 2014.

Intan juga menyarankan pemerintah bergerak cepat mengantisipasi peningkatan konsumsi vape. Indonesia hingga kini belum punya aturan soal vape yang lengkap, tegas, dan mampu menghadapi modifikasi produk tembakau di masa mendatang. Celah ini bisa dimanfaatkan produsen vape dengan gerak yang cepat dan strategis. Akibatnya, Indonesia kembali telat mengantisipasi peredaran dan dampak vape layaknya rokok batangan.

(up/up)